Berbentuk sederhana tapi mampu mengakhiri hidup manusia! Inilah 9 fakta unik tentang cacing pita.

Blogdope.com – Inilah 9 Fakta Unik Cacing Pita yang Perlu Anda Ketahui

Cacing pita adalah sejenis parasit yang menyerang usus manusia. Inilah 9 fakta unik tentang cacing pita yang perlu Anda ketahui.

Struktur tubuh cacing pita berbentuk pipih dan memanjang menyerupai bentuk pita.

Cacing pita termasuk dalam kelompok hewan multiseluler, atau hewan yang terdiri atas sel-sel yang jumlahnya banyak.

Pada tubuh cacing pita terdiri atas tiga buah lapisan lembaga. Ketiga lapisan lembaga tubuh cacing pita tersebut terdiri atas: 1) endoderm atau lapisan dalam, 2) mesoderm (lapisan tengah), dan 3) ekstoderm (lapisan luar).

Cacing pita memiliki susunan tubuh yang bersegmen atau proglotid. Di sekujur tubuhnya, cacing pita diselimuti atau tertutup oleh lapisan kutikula atau zat lilin.

Cacing pita sangat berbahaya bagi manusia, karena dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui jalan apapun dan kapanpun tanpa dapat disadari.

Jika kondisi sanitasi lingkungan di mana manusia hidup termasuk buruk ataupun konsumsi makanan yang diolah dengan kurang baik, maka resiko infeksi cacing pita akan semakin meningkat.

Infeksi usus akan terjadi manakala telur cacing pita yang masuk ke dalam sistem pencernaan manusia maupun hewan lainnya telah menetas.

Inilah 9 fakta unik tentang cacing pita yang perlu Anda ketahui.

1. Cacing Pita dapat Mencapai Panjang Hingga 25 meter

Cacing pita dewasa dapat mencapai panjang sekira 5 sampai dengan 10 meter. Kondisi yang lebih ekstrim, tubuh cacing pita dapat mencapai panjang hingga 30-25 meter jika umur hidupnya mencapai 30 tahun.

Capaian panjang yang luar biasa ini dapat terjadi manakala lingkungan hidupnya berada pada kondisi yang diinginkan.

BACA JUGA :   Otak Manusia, Organ Tubuh yang Rumit Tetapi Istimewa dan Misterius

2. Cacing Pita Memiliki Alat Isap, Tetapi Tidak Mempunyai Mulut

Cacing pita memiliki alat isap berkait atau yang disebut dengan skoleks dan terdapat pada bagian kepala. Kait atau skoleks pada cacing pita ini terbuat dari zat kitin.

Meski cacing pita memiliki kait atau skoleks, proses penyerapan nutrisi oleh cacing pita dilakukan dengan menggunakan permukaan tubuhnya.

Hal ini terjadi karena cacing pita tidak memiliki struktur mulut untuk menyerap makanan yang dibutuhkannya.

3. Infeksi Cacing Pita Bisa Berawal dari Konsumsi Makanan

Makanan yang tidak diolah dengan baik dan sudah mengandung larva atau telur cacing pita dapat menjadi awal infeksi usus yang disebabkan oleh cacing pita.

Kebanyakan infeksi usus yang disebabkan oleh cacing pita dapat juga ditemui dari konsumsi daging sapi, daging babi, dan ikan yang tidak dimasak sampai matang.

4. Tubuh Cacing Pita Bertambah Panjang Karena Menginfeksi Usus

Selama proses terjadinya infeksi usus yang disebabkan oleh cacing pita, bagian kepala cacing pita menempel di dinding usus. Sementara bagian tubuhnya akan bertambah panjang secara terus menerus sekaligus memproduksi telur.

Akibat yang ditimbulkan oleh infeksi usus yang disebabkan oleh cacing pita sebenarnya termasuk ringan. Akan tetapi bila infeksi ini menyebar sampai ke bagian otak, maka akan berubah menjadi infeksi yang sangat berbahaya.

5. Infeksi Cacing Pita Dapat Dikenali Melalui Tinja

Infeksi usus yang diakibatkan oleh cacing pita dapat dikenali melalui tinja. Seringkali tinja yang dikeluarkan mengandung telur cacing pita atau bahkan bagian tubuh cacing pita itu sendiri.

Ciri-ciri tinja infeksi usus yang diakibatkan oleh cacing pita adalah berwarna putih, memiliki ukuran kecil-kecil menyerupai butir-butir beras, ketika diamati kadang-kadang akan bergerak.

BACA JUGA :   Setia pada pasangan? Belajarlah dari burung bangau.

Infeksi usus akibat cacing pita dapat dikenali melalui tinja yang mengandung telur cacing atau juga bagian tubuh dari cacing.

Ciri-cirinya adalah berwarna putih, berukuran kecil seperti butiran beras, dan kadang bergerak-gerak.

6. Cacing Pita Termasuk Hewan Hermaprodit

Sebagaimana sebagian besar keluarga cacing lainnya, cacing pita juga termasuk dalam golongan hewan hermaprodit.

Hewan hermaprodit adalah hewan yang memiliki alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam tubuhnya.

Pada tiap bagian segmen tubuh atau proglotid cacing pita memiliki organ reproduksi jantan dan betina.

Meskipun memiliki organ reproduksi jantan dan betina sekaligus dalam tubuhnya, sebagian besar hewan hermaprodit tidak bisa melakukan reproduksi sendiri.

Hal ini dikarenakan waktu dan proses pematangan gametnya berbeda-beda.

7. Cacing Pita Memiliki Siklus Hidup yang Kompleks

Dalam proses perkembangbiakannya, cacing pita tidak mengalami proses perkembangbiakan generatif atau disebut juga aseksual sepanjang hidupnya.

Siklus hidup pada cacing pita termasuk sangat kompleks, karena di dalamnya selalu melibatkan inang perantara dan inang primer.

Parasit berbahaya bagi manusia dapat terjadi melalui infeksi usus yang diakibatkan oleh cacing pita semisal Taenia Saginata (cacing pita sapi), dan Taenia Solium (cacing pita babi).

Cacing pita disebut sebagai hewan parasit karena cacing pita selalu memerlukan tubuh inang agar dapat terus berkembang biak. Pada manusia, cacing pita hidup dan berkembang biak pada bagian usus halus.

8. Cacing Pita Menyerap Sari-sari Makanan Manusia

Manusia menjadi organisme sekaligus inang yang paling ideal bagi perkembangbiakan cacing pita. Cacing pita akan sangat diuntungkan bilamana hidup di dalam usus halus manusia.

BACA JUGA :   Elang Hewan Monogami yang Berumur Panjang

Hal ini dapat terjadi karena cacing pita akan mengambil sari-sari makanan yang terdapat pada tubuh manusia.

Sebaliknya, manusia sebagai inang primer cacing pita akan sangat dirugikan. Mengapa? Karena sari-sari makanan yang dikondumsi manusia dan seharusnya dapat digunakan untuk proses metabolisme tubuh menjadi berkurang karena diserap oleh cacing pita.

9. Sapi dan Babi Sering Menjadi Inang Cacing Pita

Jika terjadi kondisi telur cacing pita dapat keluar dari tubuh manusia, maka timbul kemungkinan telur cacing pita tersebut berpindah ke inang yang lain.

Dua jenis hewan yang sering menjadi inang bagi cacing pita adalah babi dan sapi.

Infeksi cacing pita pada sapi dan babi dapat terjadi melalui konsumsi pangan ternak yang sudah terkontaminasi telur cacing pita terlebih dahulu.

Larva dari telur cacing pita akan menetas di dalam usus sapi dan babi menjadi embrio cacing pita.

Embrio cacing pita tersebut kemudian akan menyerang dinding usus halus dan masuk ke dalam sistem peredaran darah (BACA JUGA: Sistem Peredaran Darah)

Larva cacing pita kemudian dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain seperti otot, lindah, jantung, hati, limfa, dan bahu.

Embrio cacing pita dapat bertahan hidup dan berkembang biak selama beberapa tahun di dalam tubuh inang hewan tersebut.

Demikian artikel 9 fakta unik tentang cacing pita yang perlu Anda ketahui. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *