Berpikir Komputasi (Computational Thinking)

blogdope.com – Berpikir Komputasi (Computational Thinking)

Pendidik baik formal maupun nonformal semestinya menyadari bahwa mempunyai tugas berat untuk mempersiapkan generasi bangsa yang tangguh dan siap menghadapi tantangan 10 hingga 20 tahun ke depan.

Dunia kependidikan di seluruh dunia bekerjasama untuk merumuskan bentuk-bentuk keahlian yang sekiranya akan dibutuhkan pada abad 21. Latar belakang inilah yang kemudian memunculkan bentuk-bentuk kebutuhan anak pada abad 21.

Bentuk-bentuk kebutuhan tersebut antara lain keterampilan berpikir kritis, berkolaborasi, bekerja sama, dan berpikir kreatif.

Profesor Jeanette M. Wing (Cernegie Mellon University, 2006) memperkenalkan istilah Computational Thinking (Berpikir Komputasi) sebagai salah satu bentuk keterampilan yang dibutuhkan di abad 21.

Berpikir Komputasi (Computational Thinking)

Dia merumuskan bahwa Berpikir Komputasi (Computational Thinking) adalah kemampuan seseorang memecahkan masalah dan merancang sistem dengan mengambil konsep dasar seorang ahli teknologi informasi berpikir dalam memecahkan masalah.

berpikir komputasi (computational thinking)

Secara umum kemampuan berpikir komputasi (computational thinking) adalah sebuah kemampuan berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan secara menyeluruh, logis, dan teratur.  Berpikir komputasi adalah teknik memecahkan masalah yang sangat luas wilayah penerapannya.

Bukan hanya untuk menyelesaikan masalah seputar ilmu komputer saja.  Melainkan juga untuk menyelesaikan berbagai masalah di dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :   Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill / HOTS) sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Kemampuan berpikir komputasi (computational thinking) meliputi empat hal, yaitu: 1) Dekomposisi, 2) Pengenalan pola, 3) Abstraksi, 4) Algoritma.

kemampuan berpikir komputasi

Kemampuan berpikir komputasi (Computational Thinking) sama sekali bukanlah kemampuan untuk membuat program berbasis komputer.

Kemampuan ini juga bukan bentuk keterampilan menggunakan perangkat lunak berbasis komputer.  Meskipun pada praktiknya keahlian ini tetap akan memperkaya kemampuan berpikir komputasi.

Kemampuan dalam membuat baris-baris program perangkat lunak komputer (coding) dapat mengasah keahlian berpikir komputasi (Computational Thinking).  Bahkan terdapat beberapa pakar pendidikan dan juga pendiri perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia, Microsoft, memperkenalkan kurikulum coding dasar bagi anak-anak.

Hal ini tidak lain bertujuan untuk memperkenalkan cara berpikir komputasi (Computational Thinking) melalui modifikasi game dan pembuatan game berbasis komputer.

Sebenarnya berpikir komputasi (Computational Thinking) dapat dilakukan tanpa adanya akses pada komputer.  Kemampuan dalam memecahkan masalah ini dapat dikembangkan di berbagai bidang kehidupan, tidak hanya di bidang studi yang berkaitan dengan teknologi informasi.

Misalnya, dalam bidang bahasa.  Anak akan melihat pola-pola yang sama dalam analisis puisi.  Dalam bidang musik, anak dapat menggunakan berpikir komputasi (Computational Thinking) untuk menggubah suatu lagu dengan kunci dasar yang sama.

BACA JUGA :   Konsep Pembelajaran Berorientasi HOTS

Dalam pelajaran sosial, anak akan dapat merekam data statistik pengguna kendaraan bermotor dan pola pelanggaran yang terjadi di jalan.

Cara menerapkan kemampuan berpikir komputasi (computational thinking) adalah dengan memahami masalah, mengumpulkan semua data, diikuti dengan pencarian solusi terhadap masalah.

Dalam berpikir komputasi (computational thinking) ada yang disebut tahap Dekomposisi.  Tahap dekomposisi adalah tahap dimana dilakukan pemecahan masalah yang tadinya kompleks menjadi masalah-masalah yang lebih kecil untuk diselesaikan.

Tahap selanjutnya setelah dekomposisi adalah tahap Pengenalan Pola.  Tahap ini menekankan pengenalan pola-pola kegiatan yang sama yang dilakukan untuk mewujudkan pemecahan masalah yang berbeda.

Dalam kemampuan berpikir komputasi (computational thinking) juga dikenal tahap berpikir dengan Algoritma.  Tahapan ini dilakukan dengan mengurutkan langkah-langkah dalam menyelesaikan suatu permasalahan agar menjadi logis, berurutan, teratur, dan mudah dipahami oleh orang lain.

Hal yang perlu diingat sekali lagi adalah berpikir komputasi (computational thinking) tidak selalu berhubungan dengan komputer.  Kita dapat menggunakan teknik berpikir komputasi (computational thinking) dalam upaya memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :   Teknik penilaian pengetahuan dalam Kurikulum 2013

Ketika seseorang sudah terbiasa dengan menerapkan kemampuan berpikir komputasi (computational thinking) dalam kehidupannya, maka ia akan menjadi lebih mampu berpikir kritis.  Imbasnya adalah tertingkatnya kemampuan pemecahan masalah menjadi lebih baik, efektif, dan efisien.

Oleh sebab itu sangat perlu membekali anak dengan keterampilan hidup yang lebih dari cukup dan berguna untuk masa depan mereka.  Termasuk di dalamnya adalah keterampilan berpikir komputasi (Computational Thinking).

Anak-anak tidak perlu dijejali dengan pengetahuan yang sekiranya tidak relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Semakin baik kita mempersiapkan anak-anak dalam menghadapi tantangan hidup di masa yang akan datang, maka akan semakin siap kita melepas mereka untuk hidup mandiri.

Demikian artikel mengenai Berpikir Komputasi (Computational Thinking).  Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *