Cara Melatih Bicara Pada Anak

cara melatih bicara anak

Tujuan Melatih Bicara pada Anak

Melatih bicara pada seorang anak memiliki banyak tujuan.

Pertama, seorang anak dilatih bicara sedari awal agar anak tersebut bisa berbicara dengan baik dan benar secara lisan.

Kedua, supaya anak memiliki kekuatan untuk memberikan keyakinan pada seseorang dengan kemampuan bicara yang dimilikinya.

Ketiga, agar anak mampu ingat dan mengingat beragam informasi, serta menerangkan suatu hal secara baik kepada orang lain.

Cara Melatih Bicara pada Anak

Anak harus dilatih berbicara secara bertahap dan terus menerus. Sebagai orang tua, kita harus paham bahwa melatih anak berbicara harus dilakukan sedikit demi sedikit.

Dimulai dari melatih kemampuan bahasa yang simpel, dan semakin lama menuju ke pemakaian wujud bahasa yang semakin kompleks.

Sedikit trik yang bisa digunakan ialah memperdengarkan kata-kata sederhana lalu menyampaikannya, atau sering dikenal dengan istilah metode dengar-ucap.

Dari penggunaan metode dengar-ucap ini, kemampuan mendengar berfungsi sebagai stimulan dan kemampuan mengucap sebagai respon.

Dengan kata lain, untuk melatih bicara pada anak kita dapat menggunakan metode stimulan respon.

Stimulan yang diberikan dapat berbentuk ucapan-ucapan, atau memperdengarkan lagu anak yang bersifat sederhana.

Tanggapan yang diinginkan ialah anak bisa menirukan kata, perkataan, dan kalimat dari hasil mendengarkan.

Sebaiknya, sebelum kita memberikan kesempatan pada anak untuk bicara, terlebih dahulu kita latih anak dengan kemampuan mendengarkan.

Ajaklah anak untuk mendengarkan beberapa jenis suara. Perdengarkan perkatan yang mengandung huruf-huruf hidup atau huruf vokal.

Huruf vokal terdiri huruf [a/i/u/e/o/]. Selanjutnya anak diperkenalkan dengan suara-suara dan pengucapan huruf-huruf mati (konsonan) yang paling mudah [b/p/m].

Upaya itu dilakukan secara terus menerus, dengan harapan anak bisa mendengarkan perkataan-perkataan dengan suara satu huruf, satu suku kata, dua suku kata, satu kata, dua kata, dan seterusnya.

Selanjutnya bisa dilakukan langkah memperdengarkan satu kalimat simpel dan terus mengarah ke kalimat yang lebih kompleks

Selalu penting untuk diingat, bahwa konsep melatih bicara pada anak dilakukan secara setahap demi setahap. Setahap disini dimaksudkan sedikit demi sedikit. Bertahap itu dari simpel ke arah yang kompleks.

Mari, kita mulai melatih bicara pada anak

Cara Melatih Bicara pada Anak

a. Melatih bicara dengan melafalkan huruf

Kekuatan bicara anak pada tahap awal, dari usia 0-6 bulan ialah menangis, berteriak-teriak, dan bergumam, mengoceh, tersenyum, dan tertawa untuk memberikan setiap repon stimulan yang diberikan.

Pada rentang usia tersebut, anak tidak dapat menyampaikan kalimat yang bermakna.

Anak baru dapat memberikan respon stimulan yang ada dengan tangisan, pekikan, gumaman, omongan, tawa, dan senyum.

Maka stimulan yang dapat diberikan kepada anak disesuaikan dengan tanggapan yang kita harapkan dari anak.

Oleh sebab itu, stimulan yang diberikan dapat berupa suara, seperti perkataan, perbincangan, pembicaraan, dongeng, lagu, nyanyian atau lagu, dan lain-lain.

Suara sebagai stimulan dapat juga berasal dari kita sebagai pengasuhnya. Atau dapat juga berasal dari sistem tata suara yang kita pergunakan.

Misalnya: anak selalu kita ajak berbicara, anak diberikan stimulan beberapa lagu anak-anak, lagu religi, pembacaan ayat suci berbentuk ayat-ayat pendek, doa-doa singkat.

Pemberian stimulan lainnya semisal anak diberikan mainan yang dapat bersuara. Kita dapat membuat serangkaian pergerakan yang lucu agar anak bisa tersenyum atau tertawa.

Respon anak berupa menangis, berteriak, bergumam, mengoceh, tersenyum, dan ketawa selain berperan sebagai perkataan atau bicara anak dapat juga berperan untuk memperkuat paru-paru anak.

Patut untuk diketahui, bahwa bayi yang baru dilahirkan dan tidak menangis dapat diartikan bahwa bayi tersebut memiliki masalah yang harus segera ditangani.

Anak menangis merupakan keterampilan berbicara bawaan. Secara alamiah, anak telah pintar dan tak perlu kita latih.

Supaya anak dapat berteriak, bergumam, mengoceh, tersenyum, dan ketawa, kepadanya perlu diberikan stimulan supaya bisa merespon.

Tanggapan yang diinginkan dapat berbentuk letupan suara membuat bunyi huruf, baik huruf vokal maupun konsonan.