Cara Melatih Bicara Pada Anak

Berlatih Bicara Melalui Metode Melafalkan Huruf Vokal dan Konsonan Bilabial

cara melatih bicara anakNah, untuk melatih anak supaya sanggup melafalkan huruf hidup atau huruf vokal, kita dapat memberikan stimulan yang berasal dari kita sendiri.

Huruf hidup atau vokal yang paling dahulu dilatihkan kepada anak ialah huruf /a/. Alasannya adalah huruf ini cenderung paling gampang diucapkan.

Anak-anak, khususnya yang masih berumur 0-6 bulan lebih gampang membuka mulutnya dengan menganga, terlebih saat ia menangis. Isi suara tangis anak lebih banyak menuju huruf /a/.

Langkah berikutnya ialah melatih huruf hidup atau vokal yang lain, yaitu /i/u/e/o/.

Pengucapan huruf hidup /i/u/e/o/ dapat dilatihkan dengan pengucapan yang lamban dan panjang. Mulut kita menganga cukup lama untuk huruf /a/. Misalkan: /aaaaaa/.

Mulut kita nyengir, gigi sedikit terbuka untuk menyampaikan huruf /iiiiiiiiii/. Kedua bibir kita dimajukan di depan untuk menyampaikan huruf /uuuuuu/.

Anak khususnya masih umur 0-6 bulan lebih gampang buka mulutnya dengan menganga. Khususnya saat ia menangis. Isi suara tangis banyak menuju huruf /a /.

Selanjutnya, kedua bibir kita terbuka diambil separuhnya untuk menyampaikan huruf /eeeeee/. Sedangkan untuk mengucapkan huruf /ooooo/ dilakukan dengan membuka mulut kita sampai membentuk bundaran.

Untuk melatih anak agar dapat melafalkan huruf mati atau konsonan, kita harus memilih jenis konsonan yang mudah disampaikan kepada anak.

Huruf mati atau konsonan yang mudah disebut dengan konsonan bilabial mencakup huruf /b/p/m.

Kita dapat melatihnya dengan menyampaikan konsonan itu seringkali, panjang, dan lamban. /bbbbbbb/, /ppppppp/, /mmmmmmm /.

b.Melatih bicara dengan suku kata

Saat anak berada pada rentang usia 7-12 bulan, anak dapat menirukan perkataan seseorang, memberi tanggapan dalam permainan “ciluk ba”. Dengan kata lain, anak sudah bisa memahami perintah verbal.

Kita dapat memberikan stimulan berbentuk perkataan “ciluuuuuuk baaa”. Bisa juga anak disuruh untuk meneruskan perkataan yang masih belum selesai.

Contoh yang lain, misalkan: mengucapkan kata “maem”, “mimi”, “bunda”, “ayah”. Orang tua dapat mengucapkan kata-kata itu dengan memotong setiap suku kata kemudian anak disuruh menirukan.

Bentuk stimulan yang diberikan kepada anak semestinya simpel dan memakai huruf bilabial, karena huruf itu merupakan huruf paling awal dan mudah diperkenalkan kepada anak usia dini.

Untuk tahap awalnya, latih bicara satu suku kata yang mengandung huruf konsonal atau vokal yang mudah disampaikan.

Misalnya suku kata “baa, paa, maa”, “bababa, papapa, mamama”.

Untuk melatih bicara pada anak dengan satu suku kata, sebaiknya kita menggunakan kata yang huruf awalnya mudah disampaikan kepada anak, yaitu huruf /a/ dan /b/, dan seterusnya.

c. Melatih Bicara dengan 1 atau 2 kata

Pada umur 12 bulan khususnya, anak bisa menyampaikan satu atau dua kata. Perkataan anak itu bisa dipakai untuk menjelaska kemauan, menampik, menyebutkan nama binatang atau benda-benda di sekitarnya.

Stimulan yang bisa diberikan agar supaya anak bisa menjelaskan kemauan, menampik, menyebutkan nama benda atau binatang ialah menyampaikan satu atau dua kata untuk tujuan tersebut.

Anak diharapkan untuk memberi respon dengan menirukannya.

Misalnya: menyampaikan kata “maem”, “mimi”, untuk menjelaskan kemauan, “tidak”, “emoh” untuk menampik. Kata “boneka”, “rusa” untuk menyebutkan nama benda atau binatang. Selanjutnya anak diminta untuk menirukan.

Orang tua juga bisa memberikan stimulan supaya anak mulai berlatih untuk berhitung. Anak memberikan respin dengan menirukan hitungan.

Sama halnya dengan latihan melafalkan, untuk latihan berhitung juga perlu dilakukan secara bertahap. Kita dapat mulai melatih anak untuk berhitung dengan memintanya menirukan perkataan angka atau bilangan yang rendah terlebih dahulu.

Latihan hari pertama dapat dimulai dengan menirukan berhitung “satu”, “dua”, “tiga”.

Pada hari kedua, perhitungan dari awal diulangi dilanjutkan tambahan perhitungan yang baru. “empat” “lima” “enam” dan seterusnya.

Stimulan yang diberikan oleh orang tua berupa beberapa kata, sedangkan tanggapan yang diharapkan dari anak minimum satu atau dua kata.

Misalnya kata-kata yang sehari-harinya dilakukan oleh anak, contoh: “maem, mimi, susu, bobo, duduk, jalan, mengambil”.

Kita juga dapat menggunakan kalimat yang kesehariannya dekat dengan anak, misalnya: “bapak, mama, paman, adik” dan lain-lain.

Agar anak dapat memberikan respon dengan menirukan kata-kata di atas, kita ajak anak agar mengucapkannya dengan pelan-pelan. Terus diulangi supaya menjadi lancar.