Penting diketahui, Inilah Kebahasaan Teks Cerita Inspiratif dan Contoh Soalnya yang Tepat

Teks Cerita Inspiratif

blogdope.com Kebahasaan teks cerita inspiratif merupakan materi pelajaran kelas IX semester 2. Materi ini wajib dipahami dan dikuasai oleh seluruh peserta didik SMP kelas IX. Pada postingan ini akan dipaparkan kebahasaan teks cerita inspiratif dan contoh soalnya yang tepat.

Dalam membentuk sebuah teks yang dapat menginspirasi pembacanya, peran penting kebahasaan teks cerita inspiratif mutlak diperlukan.

Oleh karenanya, jika seseorang sedang menulis teks cerita inspiratif mau tidak mau harus memberikan perhatian secara khusus terhadap unsur kebahasaan teks cerita inspiratif.

Adapun jenis teks cerita inspiratif selengkapnya dapat disimak dalam buku terbitan kemendikbud tentang CERITA INSPIRATIF.

Kebahasaan Teks Cerita Inspiratif Yang Efektif

Unsur kebahasaan teks cerita inspiratif yang harus diperhatikan agar nilai efektifitasnya tinggi diantaranya sebagai berikut.

1. Menggunakan kata-kata yang menggambarkan keadaan atau sifat tokohnya. Misalnya cantik, pendek, besar, pintar, ramah, bingung, sedih, sombong, kecewa, dll.

2. Menggunakan kata ganti orang pertama dan ketiga. Misalnya: aku, saya, ia, dia, mereka.

3. Menggunakan Dialog atau percakapan

4. Menggunakan ungkapan bernada saran, seperti: hendaknya, baiknya, jangan.

5. Menggunakan kata kerja tindakan atau aksi, seperti belajar, menanam, mengembara, memberi, menggapai, melompat, berjalan, menipu, mengusulkan, membicarakan, dll.

6. Menggunakan kata kerja yang menggambarkan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan para tokohnya. Misalnya: membisu, mengeluh, mengerang, letih, lesu.

7. Berisi kalimat fakta

Merupakan hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.

Contoh Analisis Bahasa Teks Cerita Inspiratif

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.

Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Kalimat di atas menggunaan kata-kata yang menggambarkan sifat atau keadaan tokoh.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.

Menggunakan kata ganti orang ketiga.

Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya…,” ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.

Terdapat dialog atau percakapan.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

Menggunakan kalimat perintah

“Segar.”, sahut tamunya.

Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.

“Tidak”, jawab si anak muda.

Menggunakan kalimat pertanyaan

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

Terdapat kalimat fakta.

Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

Berisi kalimat saran.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita.

Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Berupa Kalimat perintah

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya.

Berisi Nasihat

Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Berupa Kalimat Perintah

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Menggunakan kata kerja tindakan

Demikianlah, hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya.

Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Baca Juga :

  • Inilah Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Inspiratif yang Tepat
  • Jenis-Jenis Teks Bahan Ajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs
Berisi nasihat

Itulah Contoh analisis Bahasa yang digunakan dalam teks cerita inspiratif di atas.

Contoh Soal 

Bacalah teks berikut dengan saksama!

Chairil Anwar Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Juli1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan.

Kedua orang tuanya bercerai, lalu ayahnya menikah lagi. Setelah lulus SMA, Chairil mengikuti ibunya ke Jakarta. Semasa kecil di Medan, Chairil sangat akrab dengan neneknya.

Keakraban ini begitu memberi kesan. Dalam hidupnya, ia jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat yang ia alami adalah saat neneknya meninggal dunia.

Chairil melukiskan kedukaan itudalam sajak yang luar biasa pedih. Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta. Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja.

Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Ciri kebahasaan yang terdapat dalam teks tersebut adalah ….

A. kata depan ataupun nomina yang berkenaan denganurutan waktu

B. pronomina (kata ganti) orang ketiga tunggal,kata kerjatindakan,kata depan,dan kata kerja pasif

C. kata kerja yang berhubungan dengan aktivitas mental

D. kata sambung, kata depan ataupun nomina yang berkenaan dengan urutan waktu

Demikianlah pembahasan mengenai kebahasaan teks cerita inspiratif dan contoh soalnya yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *