Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi HOTS sebagai Critical and Creative Thinking

dimensi pengetahuan pembelajaran berpikir tingkat tinggiBlogdope.com – Keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order of thinking skill) sebagai critical and creative thinking merupakan salah satu aspek dalam pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order of Thinking Skill).

Critical and creative thinking dapat dipadankan dengan istilah keterampilan berpikir kritis. Istilah ini memiliki makna kemampuan untuk membuat penilaian-penilaian yang masuk akal.

Critical and creative thinking atau keterampilan berpikir kritis dan kreatif merupakan sebuah proses di mana pengetahuan dan keterampilan seseorang dalam hal ini peserta didik dikerahkan sebagai upaya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

Kompetensi berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking) menjadi salah satu kompetensi pokok yang wajib dikuasai oleh seseorang peserta didik, bahkan kompetensi ini di beberapa negara telah menjadi tujuan dan sasaran utama penyelenggaraan pendidikan.

Kajian-kajian yang telah dilakukan di beberapa negara yang kualitas pendidikannya sudah maju menunjukkan hasil bahwa berpikir kritis merupakan bentuk keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Kemampuan dan keterampilan untuk berpikir kritis turut berperan dalam perkembangan moral seseorang, perkembangan sosial, perkembangan mental dan kognitif, serta perkembangan sains dan ilmu pengetahuan.

Dengan memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, seorang peserta didik akan diarahkan untuk mampu mengambil keputusan, melakukan analisis terhadap seluruh asumsi atau anggapan/praduga yang muncul, melakukan penyelidikan atau investigasi berdasarkan data dan informasi yang telah didapatkan.

Muara akhir dari segala kemampuan yang bersumber dari keterampilan berpikir kritis adalah keterampilan untuk menghasilkan informasi atau simpulan sesuai keinginan.

Tahapan Keterampilan Berpikir Kritis

Tahapan keterampilan berpikir kritis memiliki elemen-elemen dasar, meliputi: 1) Focus, 2) Reason, 3) Inference, 4) Situation, 5) Clarity, 6) Overview. Keenam elemen ini lebih dikenal dengan istilah FRISCO.

Penjelasan untuk setiap elemen dalam tahapan berpikir kritis selengkapnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Sedangkan berpikir kreatif (creative thinking) bukan merupakan bawaan alamiah. Sebagian besar manusia secara kodratnya bukanlah pemikir kreatif.

Untuk dapat memiliki kemampuan berpikir kreatif, manusia harus mendapatkan bantuan berupa stimulus otak menggunakan teknik-teknik dan cara yang berbeda-beda.

Masalah utama untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif adalah hampir setiap ide yang belum diperiksa akan terdengar aneh dan dianggap mengada-ada. Solusi yang mungkin dari ide yang belum diperiksa tersebut kadangkala pada awalnya terdengar aneh pula.

BACA JUGA :

Solusi terhadap bentuk pemikiran yang belum diperiksa kadangka jarang terungkap untuk dicoba. Bentuk kemampuan berpikir kreatif dapat berupa imajinasi, menghasilkan kemungkinan-kemungkinan penyelesaian atau solusi, sifatnya berbeda-beda, dan lateral.

Dalam mempersiapkan peserta didik untuk menjadi pemecah masalah yang baik serta memiliki kemampuan untuk membuat keputusan maupun simpulan yang matang dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis mutlak membutuhkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking).

Perilaku Berpikir Kritis

Berpikir kritis (critical thinking) memiliki bentuk perilaku yang sistematis. Perilaku-perilaku sistematis dalam berpikir kritis (critical thinking) dikelompokkan menjadi lima, yaitu:

1. Keterampilan Menganalisis

Suatu bentuk keterampilan untuk menguraikan suatu struktur ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil dan terperinci agar dapat diketahui bentuk pengorganisasian struktur tersebut dikenal dengan istilah keterampilan menganalisis.

Tujuan pokok dari keterampilan menganalisis adalah kemampuan seseorang untuk memahami sebuah konsep yang bersifat global dengan cara menguraikan atau memerinci sifat globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci.

Pertanyaan-pertanyaan analisis selalu menghendaki setiap audiens untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang bersifat logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada suatu simpulan.

Kata Kerja Operasional (KKO) yang menjadi indikator keterampilan berpikir analitis meliputi: a) menguraikan, b) membuat diagram, c) mengidentifikasi, d) menggambarkan, e) menghubungkan, f) memerinci.

2. Keterampilan Mensintesis

Sintesis pada dasarnya merupakan kebalikan dari analisis. Keterampilan mensintesis erat kaitannya dengan keterampilan untuk menggabungkan bagian-bagian kecil menjadi sebuah bentukan atau susunan yang sama sekali baru.

Bentuk-bentuk pertanyaan yang masuk dalam keterampilan sintesis menuntut audiens untuk memadukan seluruh informasi yang bisa diperoleh dari referensi bacaannya. Berangkat dari adanya perpaduan informasi tersebut kemudian dapat tercipta ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit.

Bentuk pertanyaan sintesis memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada seseorang untuk berpikir secara bebas terkontrol.

3. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah

Keterampilan mengenal dan memecahkan masalah merupakan bentuk keterampilan penerapan konsep beberapa pengertian baru.

Bentuk keterampilan mengenal dan memecahkan masalah menuntut audiens untuk dapat memahami bacaan secara kritis, sehingga setelah selesai membaca mampu menangkap pikiran pokok bacaan dan membuat pola konsep.

Tujuan akhir dari penguasaan keterampilan mengenal dan memecahan masalah adalah agar audiens mampu memahami dan menerapkan konsep ke dalam permasalahan dengan ruang lingkup yang baru.

4. Keterampilan menyimpulkan

Pengertian keterampilan menyimpulkan adalah kegiatan akal pikiran yang dilakukan oleh manusia berdasarkan pengetahuan akan kebenaran yang dimilikinya menuju capaian pengertian atau pengetahuan baru yang lain.

Keterampilan menyimpulkan menuntut audiens untuk dapat dan mampu menguraikan serta memahami beragam aspek secara bertahap agar bisa sampai pada formula baru yang berupa sebuah simpulan.

5. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai

Keterampilan mengevaluasi atau menilai menuntut kemampuan pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu sesuai ragam kriteria yang ada.

Keterampilan mengevaluasi atau menilai menghendaki audien untuk dapat memberikan penilaian yang terukur menggunakan standar tertentu.

Menurut Bloom dalam taksonomi belajar, keterampilan mengevaluasi atau menilai merupakan tahapan berpikir kognitif dengan level yang paling tinggi.

Pada tahapan berpikir kognitif yang paling tinggi ini, setiap peserta didik dituntut untuk mampu menyelaraskan aspek-aspek kognitif lainnya untuk menilai sebuah fakta atau konsep.

Demikian artikel mengenai Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi HOTS sebagai Critical and Creative Thinking. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: