Menyoal Pergantian USBN menjadi USPBK

Menyoal Pergantian USBN Menjadi USPBK

USP-BK (Ujian Satuan Pendidikan Berbasis Komputer) adalah bentuk evaluasi pendidikan terbaru yang dicetuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pengganti Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

Pengertian

USP-BK (Ujian Satuan Pendidikan Berbasis Komputer) adalah sistem pelaksanaan ujian sekolah yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya, demikian dilansir dari web USPBK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Ujian Satuan Pendidikan Berbasis Komputer (USP-BK) diselenggarakan sekaligus sebagai upaya untuk mengukur sejauh mana pencapaian kompetensi yang bisa dicapai oleh peserta didik.

Selain itu, penyelenggaraan Ujian Satuan Pendidikan Berbasis Komputer (USP-BK) juga sebagai bentuk pengakuan terhadap prestasi belajar peserta didik sebagai salah satu tahapan penyelesaian prasyarat kelulusan dari satuan pendidikan menggunakan komputer sebagai media ujian.

Pelaksanaan ujian berbasis komputer sekaligus sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan sistem evaluasi pendidikan yang sudah berlaku selama ini, yaitu Ujian Nasional Berbasis Komputer atau lebih dikenal dengan UNBK.

Adalah hal yang naif apabila hampir semua satuan pendidikan di negeri ini berlomba-lomba untuk mengadakan sarana dan prasarana ujian berbasis komputer, kemudian di periode berikutnya ternyata UNBK tidak lagi diberlakukan.

Urgensi Penggantian Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, menyatakan bahwa peran guru harus lebih ditingkatkan sebagai katalisator keberhasilan pendidikan bagi peserta didik.

Guru harus memperoleh porsi yang besar untuk menentukan kelulusan peserta didik dari jenjang satuan pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Selama ini guru seperti terkungkung oleh sistem dan tidak memperoleh kebebasan untuk mengembangkan beragam bentuk indikator kelulusan peserta didik.

Guru hanya dituntut untuk mengembangkan soal-soal ujian berbentuk pilihan ganda.  Bahkan yang lebih parahnya lagi, guru tidak dilibatkan secara langsung dalam penyusunannya.  Satuan pendidikan diminta untuk menggunakan naskah soal yang sudah ditentukan.

BACA JUGA :   Inilah pengertian dan teknik penilaian pengetahuan oleh pendidik dalam Kurikulum 2013

Hal ini akan berakibat prestasi akademik yang tidak seragam, bahkan cenderung turun, karena ketiadaan standar pendidikan yang sama antara satu satuan pendidikan dengan satuan pendidikan yang lain.

Dalam skala yang lebih luas, adanya kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain.

Lalu sejauh mana urgensi atau nilai penting dari pergantian Ujian Sekolah Berstandar Nasional menjadi Ujian Satuan Pendidikan Berbasis Komputer (USPBK)?

Sebuah pemikiran dan tindakan jauh ke depan yang dirancang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bentuk pengejawantahan pemikiran Nadiem Makarim.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan bahwa untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik tidak lagi harus menggunakan soal-soal berbentuk pilihan ganda.

Guru bisa menentukan bentuk-bentuk soal lain sebagai penggantinya.  Bahkan guru juga diberikan kebebasan untuk menggunakan bentuk evaluasi belajar yang lain sebagai instrumen penilaiannya.  Sebagai contoh bentuk penugasan, portofolio, proyek, dan lain sebagainya.

Dengan pola yang seperti ini diharapkan prestasi belajar peserta didik dapat terangkat naik.  Pada prosesnya peserta didik benar-benar merasakan “kemerdekaan” dalam belajar.

Peserta didik memperoleh tambahan motivasi dalam mengerjakan soal-soal evaluasi, karena sudah terbiasa dengan bentuk-bentuk soal yang disusun dan diujikan oleh gurunya sendiri.  Mereka tidak lagi merasa “asing” dan sudah familier dengan model soal yang dibuat oleh gurunya.

Meskipun demikian, untuk periode peralihan ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia belum mewajibkan bagi seluruh satuan pendidikan untuk melaksanakannya.

Makna pemikiran dan konsep “Merdeka Belajar” bagi guru tidak hanya sebatas mempersingkat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Dulu penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sangat menyita waktu karena jumlahnya yang sangat banyak, karena di dalamnya guru diminta untuk menuliskan secara terperinci seluruh unsur-unsur pembelajaran yang akan dibelajarkan.

Penyederhanaan bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) diharapkan dapat memberikan keleluasan dan waktu yang cukup bagi guru untuk mempersiapkan kegiatan pembelajaran dan merancang bentuk evaluasi pembelajaran.

Penyusunan RPP dahulu guru diminta menulis sangat rinci satu dokumen RPP bisa lebih 30 halaman. Jaman sekarang, RPP berisi tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan asesmen bahkan semua itu bisa diringkas menjadi 1 halaman saja.

BACA JUGA :   Pendekatan Saintifik: Amanat Peningkatan Kualitas Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Sehingga penulisan RPP dilakukan dengan efisien dan efektif yang menjadikan guru punya waktu untuk mempersiapkan juga mengevaluasi proses pembelajaran.

Pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) selama ini dipandang sangat membatasi semangat yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, demikian Nadiem Makarim.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional jelas mengamanatkan keleluasan bagi satuan pendidikan untuk menentukan kelulusan peserta didik.

Pada tahun 2020, pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) akan berubah bentuk menjadi ujian atau asesmen yang diselenggarakan hanya oleh sekolah atau satuan pendidikan.

Satuan pendidikan benar-benar diberikan keleluasaan untuk menyusun perangkat penilaian pembelajaran dan indikator-indikator pencapaiannya, sekaligus menyelenggarakan evaluasi untuk menentukan kelulusan peserta didik.

Ke depannya, ujian atau asesmen ini diselenggarakan untuk memperoleh gambaran penilaian atas pencapaian kompetensi peserta didik.

Ujian atau asesmen yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan dapat menggunakan bentuk yang ditentukan oleh satuan pendidikan secara mandiri, bisa berwujud tes tulis dan/atau bentuk penilaian lain yang dirasa lebih komprehensif.

Bentuk-bentuk penilaian pendidikan yang komprehensif sangat beragam, diantaranya portofolio, penugasan (baik kelompok maupun individu), karya tulis, dan sebagainya.

Selain itu, anggaran pelaksanaan kegiatan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) diharapkan dapat dialihkan untuk mengembangkan kompetensi dan kapasitas guru serta satuan pendidikan dengan tujuan peningkatan kualitas pembelajaran.

Bentuk efisiensi pelaksanaan ujian sekolah dilaksanakan dengan menggunakan sistem CBT (Computer Based Test) menggunakan media yang sudah digunakan untuk melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sebelumnya.

Perbedaan mendasarnya adalah penyusun naskah soal adalah guru-guru yang mengampu mata pelajaran pada satuan pendidikan masing-masing.  Meskipun demikian, dalam penyusunan naskah soal tetap harus memperhatikan standar tolok ukur yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *