Proton, Elektron, dan Neutron: 3 Partikel Dasar Penyusun Atom

model atom dalton
Ilustrasi Model Atom Dalton (Sumber: https://nurmalasaridewi-72.medium.com/)

Blogdope.comPartikel Dasar Penyusun Atom: Proton, Elektron, Neutron. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa atom merupakan salah satu partikel dasar penyusun sebuah materi.

Kata “atom” berasal dari bahasa Yunani, a yang berarti tidak, dan tomos yang berarti terbagi. Dengan kata lain, atom dapat bermakna suatu bentuk unsur yang tidak dapat terbagi.

Hingga sekarang, manusia belum mampu melihat partikel terkecil dari suatu zat secara langsung maupun berbantuan mikroskop canggih. Oleh karenanya, bentuk sebuah atom sama sekali belum pernah ada yang mengetahuinya

John Dalton adalah ilmuwan pertama yang mengemukakan teori atom. Pemikiran Dalton pada saat itu dengan jelas menyatakan bahwa atom merupakan bagian terkecil penyusun materi.

Selengkapnya tentang John Dalton dan teori atom modern dapat Anda simak pada artikel Biografi Lengkap John Dalton Penemu dan Pencetus Teori Atom Modern.

Pada perkembangannya, pemodelan bentuk atom terus mengalami perkembangan. Berawal dari model atom Dalton, Thomson, Rutherford, hingga model atom Bohr.

Artikel Terkait:

Mengenal Joseph John Thomson, Ilmuwan Penemu Unsur Elektron

Ernest Rutherford, Sang Penemu Proton

Dari setiap ilmuwan tersebut meskipun mereka memodelkan atom dengan ciri yang berbeda, akan tetapi kesemuanya memiliki kesamaan.

Kesamaannya yaitu partikel dasar penyusun atom tetap saja hanya terdiri atas proton, elektron, dan neutron.

Berikut admin paparkan penjelasan lengkap mengenai partikel dasar penyusun atom yang terdiri atas proton, elektron, dan neutron.

Partikel Dasar Atom Berupa Proton

Eugene Goldstein ialah ilmuwan pertama yang berhasil menemukan partikel proton. Partikel ini di temukan oleh Goldstein pada sekira tahun 1886.

Penemuan proton oleh Eugene Goldstein berdasar pada serangkaian percobaan menggunakan tabung sinar katode atau yang lebih terkenal dengan Tabung Crookes.

tabung sinar katoda
Ilustrasi Tabung Sinar Katoda (Sumber: Wikipedia.com)

Baca Juga: Biografi William Crookes, Penemu Tabung Sinar Katode

Ketika melakukan percobaan, Goldstein menghubungkan anode dan katode ke sumber arus listrik yang bertekanan tinggi.

Dari hasil percobaan tersebut ia memperoleh fakta bahwa jika pada sebuah katode apabila diberi lubang dan lubang tersebut terisi dengan gas hidrogen bertekanan rendah, maka bagian has di belakang katode akan mengalamai proses fluresensi atau berpendar.

Proses flouresensi atau perpendaran tersebut berasal dari radiasi dari sinar anode yang kemudian kita sebut sinar positif atau ada juga yang menyebutnya dengan sinar terusan.

Goldstein kemudian menyimpulkan bahwa sinar katode merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif, yang mana sinar anode bergantung pada jenis gas yang terdapat di dalam tabung.

Sifat-sifat Sinar Anode

Sedangkan sifat-sifat sinar anode atau sinar positif yang terdefinisikan melalui percobaan Goldstein sebagai berikut.

Pertama, sinar anode merupakan radiasi partikel yang disebut proton.

Kedua, jika sinar anode diuji dengan medan listrik atau medan magnet dan dibelokkan ke kutub negatif, maka sinar anode akan menjadi bermuatan positif. Dari situlah awalnya sebutan sinar positif.

Ketiga, jika tabung terisi dengan gas lain misalnya helium, oksigen, dan nitrogen maka akan menghasilkan sinar positif yang berbeda. Dari sini membuktikan bahwa sinar positif yang dihasilkan tergantung pada jenis gas yang berada di dalam tabung.

Dari serangkaian percobaan Goldstein dapat di rumuskan bahwa massa 1 atom proton = 1 sma = 1,67 10-24 gram dengan muatan 1 proton = +1 = 1,6 x 10-19 C.

Partikel Dasar Atom: Elektron

Elektron merupakan partikel dasar penyusun atom yang pertama kali di ketemukan oleh Joseph John Thomson pada sekira tahun 1897.

biografi penemu unsur elektron
Joseph John Thomson, Penemu Elektron

Baca: Mengenal Joseph John Thomson: Penemu Elektron, Partikel Dasar Penyusun Atom

Thomson melakukan penelitian dan percobaan menggunakan tabung sinar katode pada tekanan udara sangat rendah. Pada saat melakukan percobaan, Thomson menghubungkan kedua ujung tabung yang telah terpasang plat elektrode dengan arus listrik bertegangan tinggi.

Selain itu, pada percobaannya Thomson juga menggunakan pompa vakum sehingga tekanan udara dalam tabung dapat di atur.

Hasil percobaan Thomson diantaranya menyebutkan bahwa apabila tekanan udara dalam tabung rendah, maka gas akan berpijar dan warna yang di hasilkan tergantung jenis gas yang berada di dalam tabung.

Sedangkan bila tekanan gas dalam tabung diatur menjadi semakin kecil, maka tabung akan menjadi gelap tetapi di depan katode atau kutub positif akan berpendar warna hijau.

Sekali lagi perpendaran ini berasal dari radiasi katode menuju anode yang membentur gelar sehingga warna hijau berpendar. Untuk selanjutnya, sinar ini disebut dengan sinar katode.

Kesimpulan dari serangkaian percobaan yang dilakukan oleh Thomson erat kaitannya dengan sifat sinar katode. Selengkapnya sebagai berikut.

Sifat Sinar Katode

Pertama, medan magnet dapat membelokkan sinar katode ke arah positif, sehingga menunjukkan muatan sinar tersebut awalnya adalah negatif.

Kedua, setiap elektroda dapat memancarkan sinar katode dan tidak bergantung pada bahan penyusun elektrodanya.

Ketiga, sinar katode merupakan partikel dasar dari setiap atom, selanjutnya disebut dengan elektron.

Selain menyimpulkan sifat-sifat sinar katode, Thomson juga berhasil merumuskan hitungan perbandingan e/m, di mana e = muatan, dan m = massa.

Rumusan perbandingan tersebut berdasarkan pada data banyaknya sinar yang dapat dibelokkan oleh medan magnet dan energi yang menyertainya.

Perbandingan partikel elektron (e/m) adalah -1,76 x 108 C/g.

Neutron, Partikel Pelengkap Penyusun Atom

Seiring berjalannya waktu, penemuan partikel proton dan elektron ternyata juga menimbulkan permasalahan yang baru. Permasalahan tersebut erat kaitannya dengan massa atom yang terhimpun semua pada inti atom ternyata tidak sesuai dengan realita.

Faktanya, pasti terdapat partikel lain selain proton dan elektron di dalam sebuah atom. Hal ini berdasar pada kenyataan bahwa massa kedua partikel tersebut sangatlah kecil.

Pemikiran ini pada akhirnya merangsang para peneliti yang lain untuk mencari tahu apakah partikel dasar penyusun atom selain proton dan elektron.

Rutherford (Baca: Biografi Ernest Rutherford Ilmuwan Penemu Partikel Proton) berhasil menemukan inti atom yang menjadi dasar serangkaian penelitian oleh ilmuwan yang lain.

Misalnya penelitian oleh W. Bothe dan H. Becker yang melakukan percobaan dengan menembakkan sinar alfa pada logam belerium yang berasal dari radiasi partikel yang memiliki daya tembus sangat tinggi.

Percobaan Bothe dan Becker ini kemudian berlanjut oleh James Chadwick pada sekira than 1932. Chadwick kemudian dapat membuktikan bahwa radiasi tersebut merupakan partikel netral dan tidak bermuatan, dengan massa yang hampir sama dengan massa proton.

Partikel dasar penyusun atom hasil penemuan James Chadwick ini kemudian kita kenal dengan nama neutron.

Sifat-sifat Partikel Neutron

Berdasarkan hasil percobaannya, Chadwick menyimpulkan sifat-sifat neutron sebagai berikut.

Pertama, dalam medan magnet, neutron tidak dibelokkan ke kutub positif ataupun kutub negatif. Dengan kata lain neutron merupakan partikel yang bermuatan netral.

Kedua, partikel neutron memiliki massa yang hampir sama dengan massa sinar anode, yaitu 1,6728 10-24 gram = 1 sma.

Demikian paparan lengkap mengenai partikel dasar penyusun atom : proton, elektron, dan neutron. Semoga dapat menambah wawasan dan khasanah pengetahuan Anda.

Terima kasih.