* Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka

Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka

Blogdope.com – Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka. Keterpaduan pembelajaran dengan asesmen sebagai suatu siklus belajar merupakan titik penekanan dalam Kurikulum Merdeka. Asesmen di sini terutama asesmen formatif.

Prinsip pembelajaran dan asesmen jelas mengindikasikan pentingnya pengembangan strategi pembelajaran.

Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka

pelaksanaan pembelajaran dan asesmen
Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka

Baca Juga : Prosedur Operasional Standar (POS) Asesmen Nasional (AN) Tahun 2022

Pengembangan strategi pembelajaran tersebut disesuaikan dengan tahap capaian belajar peserta didik. Inilah yang seringkali diistilahkan dengan teaching at the right level.

Frasa tersebut merujuk pada pemberian materi pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan pemahaman peserta didik.

Adapun tujuan diferensiasi materi ajar ini adalah agar setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Dengan demikian, pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi yang membutuhkan asesmen yang bervariasi dan berkala.

Penerapan pendekatan pembelajaran yang demikianlah yang menjadi porsi terbesar dalam Kurikulum Merdeka.

Siklus Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen

Di bawah ini admin sajikan contoh ilustrasi siklus perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen.

1. Pendidik menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Di dalamnya memuat rencana asesmen formatif yang akan dilakukan di awal pembelajaran, dan asesmen di akhir pembelajaran.

2. Melakukan asesmen di awal pembelajaran untuk menilai kesiapan setiap peserta didik dalam mempelajari materi yang dirancang.

3. Mengacu pada hasil asesmen, pendidik selanjutnya memodifikasi rencana yang dibuat dan/atau menyesuaikan untuk sebagian peserta didik.

4. Kemudian pendidik melaksanakan pembelajaran dan menggunakan berbagai metode asesmen formatif untuk memonitor kemajuan belajar.

5. Pendidik melaksanakan asesmen di akhir pembelajaran untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini dapat digunakan sebagai asesmen awal pada pembelajaran berikutnya.

Strategi pembelajaran disusun berdasarkan hasil asesmen di awal pembelajaran. Tentu dengan memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik.

Meskipun demikian, pembelajaran terdiferensiasi sama sekali bukan hal yang sederhana. Salah satu tantangannya adalah keterbatasan waktu untuk merancang pembelajaran yang berbeda-beda berdasarkan kebutuhan peserta didik.

Sebagian pendidik tentu mengalami kesulitan untuk mengelompokkan peserta didik berdasarkan kesiapan. Karena jumlah peserta didik yang banyak, dan ruang kelas yang terbatas.

Keberadaan tantangan-tantangan tersebut memaksa pendidik melakukan penyesuaian. Dengan mempertimbangkan kesiapan pendidik serta kondisi yang dihadapinya.

Beberapa alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat dilakukan pendidik diantaranya:

Baca : DOWNLOAD DISINI! POS Asesmen Nasional AN Tahun 2022 

Alternatif Pendekatan Pembelajaran 1

Menilik pada hasil asesmen di awal pembelajaran, peserta didik di kelas yang sama dibagi menjadi dua atau lebih kelompok menurut capaian belajar mereka.

Kemudian keduanya diajarkan oleh guru yang sama atau disertai guru pendamping/asisten.

Satuan pendidikan juga dapat menyelenggarakan program pelajaran tambahan untuk peserta didik yang belum siap belajar sesuai fase di kelasnya.

Alternatif Pendekatan Pembelajaran 2

Berdasarkan hasil asesmen awal pembelajaran, peserta didik di kelas yang sama dibagi menjadi dua kelompok atau lebih.

Kelompok tersebut diajar oleh guru yang sama atau disertai guru pendamping/asisten.

Alternatif Pendekatan Pembelajaran 3

Mengacu pada asesmen awal pembelajaran, pendidik mengajar seluruh peserta didik di kelasnya.

Untuk sebagian kecil peserta didik yang belum siap, pendidik memberikan pendampingan setelah jam pelajaran berakhir.

Dari ketiga alternatif pendekatan pembelajaran tersebut, pendidik dan satuan pendidikan dapat memilih strategi pembelajaran. Disesuaikan dengan tahap capaian peserta didik.

Pendekatan pembelajaran dapat dirancang sendiri oleh pendidik.

Pendekatan Pembelajaran dalam Pembelajaran Terdiferensiasi

Hal terpenting yang harus selalu diperhatikan dalam pembelajaran terdiferensiasi adalah pengelompokan peserta didik berdasarkan capaian tidak mengarah pada terbentuknya anggapan “kelompok pintar” dan “kelompok tidak pintar”.

Anggapan adanya “kelompok pintar” dan “kelompok tidak pintar” justru memicu adanya diskriminasi peserta didik.

Peserta didik yang ditempatkan pada kelompok marjinal secara tidak sadar menganggap diri mereka sebagai individu yang tidak memiliki kemampuan belajar yang baik.

Dari sisi pendidik, tanpa sadar juga menaruh ekspektasi yang rendah terhadap peserta didik yang sudah dianggap kurang berbakat secara akademik.

Sehingga berakibat peserta didik tersebut menjadi terus terpinggirkan.

Untuk menghindari dampak negatif tersebut, pendidik harus memperhatikan beberapa hal.

1. Pembelajaran kelompok kecil adalah metode yang biasa dilakukan peserta didik.

Terkadang pendidik membagi kelompok berdasarkan minat, penetapan kelompok pengamatan acak, dan sebagainya. Sehingga pengelompokkan secara kemampuan akademis adalah hal yang biasa.

2. Pengelompokan berdasarkan kemampuan berubah sesuai dengan kompetensi yang menjadi kekuatan peserta didik.

Dengan kata lain, kelompok tidak bersifat permanen sepanjang tahun atau semester. Serta tidak berlaku di semua mata pelajaran.

3. Bagi peserta didik dengan tingkat kemampuan mahir perlu dipikirkan bentuk tantangan yang lebih beragam.

Misalnya menjadi tutor sebaya, meskipun tetap harus memikirkan kompetensi mengajarnya. Sedangkan tanggungjawab fasilitasi tetap berada pada pendidik.

4. Perlu peran beragam yang bisa dipilih peserta didik. Bertujuan untuk memperkaya atau mendalami kompetensi yang dibangun.

Diferensiasi yang dapat dilakukan pendidik dalam proses pembelajaran adalah diferensiasi berdasarkan konten atau materi, proses, dan/atau produk.

pembelajaran terdiferensiasi
Contoh Pembelajaran Terdiferensiasi

Contoh Diferensiasi Pembelajaran 1

Pendidik dapat memilih salah satu atau kombinasi dari ketiga cara di bawah ini.

1. Konten (materi yang akan dibelajarkan). Untuk peserta didik yang memerlukan bimbingan dapat mempelajari 3 (tiga) hal terpenting terkait materi.

Sedangkan bagi peserta didik yang cukup mahir dapat mempelajari keseluruhan materi. Kemudian bagi peserta didik yang sudah sangat mahir dapat diberikan pengayaan.

2. Proses (cara mengajarkan). Proses pembelajaran dapat didiferensiasi sesuai kesiapan peserta didik. Demikian pula halnya dengan bentuk pendampingannya.

Bagi peserta didik yang membutuhkan bimbingan, pendidik perlu mengajarkan secara langsung. Untuk peserta didik yang cukup mahir dapat diawali dengan modeling yang dikombinasikan dengan kerja mandiri, praktik, dan peninjauan ulang.

Sedangkan bagi peserta didik yang sudah sangat mahir diberikan beberapa pemantik untuk tugas mandiri.

3. Produk (luaran atau performa yang akan dihasilkan). Diferensiasi pembelajaran juga dapat dilakukan melalui produk yang dihasilkan.

Misalnya, bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan bisa menjawab pertanyaan terkait konten inti materi. Sedangkan bagi peserta didik yang cukup mahir dapat membuat presentasi yang menjelaskan penyelesaian masalah sederhana.

Adapun bagi peserta didik yang sudah mahir dapat membuat sebuah inovasi atau menelaah permasalahan yang lebih kompleks.

Contoh Diferensiasi Pembelajaran 2

Pada contoh diferensiasi pembelajaran 2 ini, instrumen asesmen awal pembelajaran yang digunakan adalah soal isian singkat dan soal cerita kontekstual terkait keliling bangun datar. Misalnya keliling segiempat, segitiga, dan lingkaran.

Dari jawaban yang diberikan peserta didik, pendidik mengidentifikasi kesiapan peserta didik di kelasnya, yaitu:

1. Sebagian besar peserta didik telah memahami konsep keliling dan dapat menghitung keliling bangun datar.

2. Beberapa peserta didik dapat memahami konsep keliling, tetapi belum lancar menghitung keliling bangun datar.

3. Terdapat peserta didik yang belum memahami konsep keliling.

Dari data yang sudah diperoleh tersebut, pendidik kemudian melakukan diferensiasi pembelajaran sebagai berikut.

Diferensiasi Pembelajaran

Kondisi 1 – Mayoritas peserta didik telah memahami konsep keliling dan dapat menghitung keliling bangun datar

Untuk kondisi pertama ini, pembelajaran berdiferensiasinya dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut.

1. Peserta didik mengerjakan soal-soal yang lebih menantang. Soal-soal tersebut lebih banyak merupakan pengaplikasian konsep keliling bangun datar dalam kehidupan sehari-hari.

2. Peserta didik bekerja secara mandiri dan saling memeriksa pekerjaan masing-masing.

Kondisi 2 – Beberapa peserta didik telah memahami konsep keliling, tetapi belum lancar dalam menghitung keliling bangun datar.

Untuk kondisi kedua, bentuk diferensiasi pembelajaran dapat dilakukan dengan tahapan berikut.

1. Pendidik menjelaskan cara menghitung keliling bangun datar.

2. Pendidik memberikan latihan secara berkelompok. Bentuk latihan berupa memghitung keliling bangun datar berbantuan benda konkret.

3. Bagi peserta didik yang mengalami kesulitan dapat mengajukan pertanyaan kepada 3 (tiga) temannya. Jika masih belum ada penyelesaian dapat bertanya kepada pendidik. Pendidik melakukan pendampingan sesekali dan memastikan tidak terjadi miskonsep.

Artikel Terkait :

Demikianlah pembahasan lengkap mengenai Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka yang dapat admin sampaikan pada kesempatan kali ini.

Admin berharap semoga uraian pelaksanaan pembelajaran dan asesmen tersebut dapat menambah luas pengetahuan dan wawasan Anda.

Pastikan Anda telah subscribe email ke blogdope.com untuk memperoleh informasi terbaru dan pastinya bermanfaat.

Terima kasih.

Leave a Reply