Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan (PKB)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui kegiatan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi.  Program ini dijalankan di bawah Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Tujuan dilaksanakannya program ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan.  Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menekankan pada pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS = High Order of Thinking Skills).

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat simpulan, membangun representasi, menganalisis dan membangun hubungan.  Kompleksitas berpikir dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar dan sebaiknya dimiliki oleh guru profesional.

Guru yang profesional memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan prestasi peserta didik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30% prestasi peserta didik ditentukan oleh faktor guru.

Dengan demikian maka guru harus senantiasa memperbarui dirinya dengan melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Jika program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan sebeluumnya didasarkan pada hasil Uji Kompetensi Guru (UKG).

Uji Kompetensi Guru (UKG) berfokus pada peningkatan kompetensi guru khususnya kompetensi pedagogi dan profesional, maka Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKB) Berbasis zonasi lebih fokus pada upaya memintarkan peserta didik.

Salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Zonasi diperlukan guna memperhatikan luas wilayah Indonesia.  Program zonasi diperlukan guna memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat.  Diharapkan dengan program ini peningkatan pendidikan dapat berjalan secara masif dan tepat sasaran.

Pelaksanaan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui kegiatan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKB) berbasis zonasi memerlukan unit pembelajaran.

BACA JUGA :   Konsep Penilaian (Assessment)

Unit pembelajaran disusun berdasarkan analisis Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), serta analisis soal-soal Ujian Nasional (UN) maupun Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional.

Ujian Nasional (UN) adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik).

Hasil pengukuran capaian siswa berdasar Ujian Nasional (UN) ternyata selaras dengan capaian kegiatan penilaian berbasis PISA maupun TIMSS.

Hasil Ujian Nasional (UN) tahun 2018 menunjukkan bahwa siswa masih lemah dalam menerapkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.  Keterampilan berpikir tingkat tinggi meliputi kegiatan menalar, menganalisis, dan mengevaluasi.

Oleh sebab itu siswa harus dibiasakan dengan soal-soal dan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi agar terdorog kemampuan berpikir kritisnya.

Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan maka pelaksanaan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) mempertimbangkan pendekatan kewilayahan atau dikenal dengan istilah zonasi.

Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, Kelompok Kerja Guru (KKG) SD dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon dalam zonasinya dapat terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru.

Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *