Prinsip Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS)

Blogdope.com – Prinsip-prinsip Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) 

Integrasi keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS) ke dalam pengembangan pembelajaran merupakan sebuah langkah nyata demi tercapainya peningkatan kualitas pembelajaran dan juga kualitas lulusan.

Pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS) dikembangkan seturut arah kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia adalah pelaksanaan pembelajaran berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS) yang terintegrasi dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) (lihat juga: Penguatan Pendidikan Karakter)

Pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS) merupakan pembelajaran yang secara konsisten melibatkan tiga aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Ketiga aspek berpikir tingkat tinggi tersebut meliputi: 1) transfer of knowledge, 2) critical and creative thinking, 3) problem solving. (lihat juga: Keterampilan 4C)

Prinsip pembelajaran Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS)

Contoh Desain Pembelajaran Keterampilan 4C Pendidikan Abad 21

Agar dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang seutuhnya berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi, guru seyogyanya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut.

No.Kegiatan yang PERLU dilakukan GuruKegiatan yang TIDAK PERLU dilakukan Guru
1.Memberikan penjelasan secara singkatMenerangkan materi dengan panjang lebar
2.Membiasakan diri untuk menjawab pertanyaan peserta didik dengan bentuk jawaban yang merupakan stimulus berpikir bagi peserta didikMendeskripsikan permasalahan secara langsung kepada peserta didik
3.Tahapan pembelajaran diawali dengan penyampaian masalah dan diakhiri dengan perumusan cara memecahkan masalahMemberikan jawaban-jawaban langsung dan bukan bersifat stimulus atas pertanyaan yang diajukan peserta didik
4.Mengarahkan peserta didik untuk memahami realita atau kejadian nyata pada masyarakatMengkritik pertanyaan dan/atau jawaban yang disampaikan oleh peserta didik
5.Mendorong peserta didik untuk mengungkap pengetahuan yang telah dikuasai sebagai sarana penting untuk memecahkan masalahMemotong pernyataan yang disampaikan oleh peserta didik
6.Memberikan kesempatan peserta didik untuk merumuskan permasalahan secara mandiriMengucapkan kalimat yang memiliki tendensi meremehkan, melecehkan, atau menghina peserta didik
7.Memberikan dorongan bagi peserta didik untuk dapat melihat permasalahan dari beragam aspekMenarik simpulan sendiri atas pernyataan peserta didik
8.Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk melakukan analisis data dan informasi yang dimiliki
9.Mendorong peserta didik untuk aktif mencari dan mengumpulkan data dan informasi yang relevan dengan permasalahan yang sedang dihadapi
10.Memberikan dorongan bagi peserta didik untuk mengembangkan beragam alternatif solusi atas permasalahan yang dihadapi
11.Memberikan dorongan bagi para peserta didik untuk dapat merumuskan solusi atau pemecahan masalah yang dihadapi
12.Memberikan dorongan bagi peserta didik untuk dapat menyusun Mind Mapping (sistematika pengetahuan dalam otak yang diwujudkan dalam gambar, diagram, simbol, persamaan) untuk hal yang baru dipelajari.
BACA JUGA :   Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi HOTS sebagai Critical and Creative Thinking

Agar peran peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill, HOTS) terjamin, maka guru harus selalu berusaha untuk membina komunikasi efektif dua arah dengan peserta didik.

Peran serta aktif dari guru bernilai penting sebagai salah satu upaya agar dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi unggul.

Peran Guru dalam Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS)

Agar pembelajaran berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi ((Higher Order Thinking Skill, HOTS) dapat terselenggara dengan baik, maka perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut.

Peran Guru

  1. Persiapan kegiatan pembelajaran
  2. Guru melakukan perencanaan untuk mempersiapkan teknik yang bisa mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
  3. Guru menyusun dan mempersiapkan skenario pelaksanaan inkuiri dengan terlebih dahulu mempersiapkan kajian pokok bahasan.
  4. Bahan dan materi yang diperlukan untuk melakukan investigasi dan diskusi sudah dipersiapkan.
  5. Guru mempersiapkan beragam pertanyaan sebagai bahan pendalaman diskusi dan upaya untuk menumbuhkembangkan critical thinking.
  6. Melakukan pencarian dan mempersiapkan bahan stimulasi peserta didik pada tahap awal kegiatan pembelajaran.
  7. Guru memiliki keterampilan, pengetahuan, dan perilaku kebiasaan serta pola pikir yang diperlukan dalam pembelajaran berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS).
  8. Guru menguasai teknik untuk mendorong peserta didik memiliki rasa tanggung jawab dalam pembelajaran.
  9. Guru memastikan pelaksanaan kegiatan pembelajaran tetap berfokus pada tujuan yang akan dicapai.
  10. Antisipasi atas pertanyaan dan saran yang tidak terduga dan tidak diharapkan dari peserta didik.
  11. Mempersiapkan lingkungan kelas pembelajaran dengan peralatan, bahan, dan sumber yang diperlukan dalam proses pembelajaran.
  12. Melakukan fasilitasi terhadap kegiatan pembelajaran
  13. Kerangka pembelajaran secara harian, mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan sudah dipersiapkan. Di dalamnya dirumuskan juga penekanan kompetensi peserta didik yang akan dikembangkan serta model dan pengembangan kebiasaan perilaku pola pikir peserta didik.
  14. Guru berusaha menciptakan suasana kelas yang bebas, nyaman, dan menyenangkan untuk aktivitas berpikir bagi peserta didik.
  15. Guru memberikan pedoman yang jelas bagi peserta didik, disesuaikan dengan bahan atau pokok yang akan dikaji.
  16. Guru menanamkan pemahaman pada diri sendiri bahwa kegiatan mengajar merupakan bagian tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran.
  17. Guru mempersiapkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berupa rangsangan atau stimulus bagi pesrta didik untuk mendorong tumbuhnya kemampuan berpikir tingkat tinggi. Jenis pertanyaan yang disiapkan dan diajukan mulai dari bentuk pertanyaan inferensial, pertanyaan interpretatif, pertanyaan transfer, dan pertanyaan hipotetik.
  18. Guru selalu menghargai dan mendorong munculnya tanggapan dari peserta didik. Jika terjadi salah konsep pada peserta didik, guru mengarahkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi yang efektif untuk menemukan konsep yang benar.
  19. Berusaha menghilangkan hambatan yang terjadi pada kegiatan pembelajaran serta memberikan petunjuk kepada peserta didik jika dirasa perlu.
  20. Guru melakukan asesmen perkembangan pesreta didik dan memfasilitasi pembelajaran.
  21. Guru melakukan kontrol tidak langsung terhadap kelas.
  22. Guru melakukan monitoring terhadap kegiatan peserta didik.
BACA JUGA :   Dua Langkah Percepatan Peningkatan Kualitas Pendidikan

Peran Peserta Didik dalam Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS)

  1. Peserta didik sebagai pembelajar
  2. Menumbuhkan sikap dan motivasi untuk terus belajar.
  3. Memelihara kemauan untuk belajar lebih lanjut.
  4. Mampu bekerjasama dengan guru maupun dengan temannya.
  5. Mampu menunjukkan rasa percaya diri selama proses belajar, memiliki kemauan untuk memahami dan mengubah, menambah gagasan. Memiliki keberanian untuk menanggung resiko pembelajaran.
  6. Peserta didik tertantang dan bersemangat untuk melakukan eksplorasi
  7. Peserta didik menunjukkan keingintahuan yang besar dan keinginan untuk melakukan eksplorasi, pengkajian, dan memahami.
  8. Peserta didik aktif untuk mencari bahan-bahan, data dan fakta, serta informasi yang diperlukan.
  9. Melakukan diskusi dengan teman dan guru tentang kegiatan observasi.
  10. Melakukan percobaan untuk menguji gagasannya sendiri.
  11. Peserta didik mempertanyakan, mengajukan eksplanasi, dan melakukan observasi
  12. Peserta didik aktif mengajukan pertanyaan, baik secara verbal maupun perilaku.
  13. Peserta didik mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada keberlanjutan kegiatan.
  14. Pengamatan dilakukan secara kritis, melakukan kegiatan mendengar dengan serius, dapat menyampaikan gagasan secara jelas dan spontan.
  15. Peserta didik dapat melakukan penilaian dan mempertanyakan sebagai umpan balik kegiatan pembelajaran.
  16. Peserta didik mengembangkan keterkaitan pengetahuan yang telah dimiliki dengan informasi yang baru diperoleh.
  17. Peserta didik merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran
  18. Melakukan perencanaan cara ujicoba gagasan yang diajukan.
  19. Menyusun perencanaan untuk melakukan verifikasi, pengembangan, konfirmasi, dan mencatat informasi.
  20. Mempergunakan alat observasi, evaluasi, dan melakukan pencatatan informasi yang diperoleh.
  21. Melakukan penyaringan informasi yang diperoleh.
  22. Melakukan pengkajian secara mendetail, mengikuti urutan kegiatan, memahami adanya perubahan, dan mengkaji persamaan dan perbedaan yang terjadi.
  23. Peserta didik melakukan evaluasi dan kritis atas hal-hal yang telah dilakukan
  24. Mengembangkan indikator evaluasi kerja.
  25. Melakukan identifikasi kelehaman dan kelebihan pekerjaan sendiri.
  26. Bersama teman dan juga guru melakukan refleksi hasil pekerjaan.
BACA JUGA :   Dimensi Pengetahuan pada Pembelajaran HOTS

Demikian artikel mengenai Prinsip Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill, HOTS). Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *