Ringkasan 7 Materi PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia 2021

Blogdope.com – Para calon peserta tes seleksi PPPK tahun 2021 perlu mempelajari ringkasan materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia untuk memperbesar peluang lolos seleksi PPPK formasi tahun 2021. Paparan berikut berisi rangkuman materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia bagian 7.

Rangkuman Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia bagian 7 ini tersusun berdasarkan indikator esensial yang terbit 2019. Adapun indikator esensial untuk tes tahun 2021 tidak jauh berbeda dari tahun 2019.

Pada kesempatan kali ini akan disajikan rangkuman materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia. Jadi, dalam ringkasan materi ini khusus membahas tentang materi  bahasa Indonesia.

ringkasan materi tes pppk kompetensi profesional bahasa indonesia
tes pppk kompetensi profesional

Artikel Populer Lainnya:

1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 1

2. Baca Dulu Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 2

3. Raih Skor Tertinggi Seleksi PPPK Tahun 2021 dengan Belajar Ringkasan Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 3!

Rangkuman Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia SMP 2021 Bagian 7

Ringkasan atau rangkuman adalah penyajian karangan atau peristiwa yang panjang ke dalam bentuk yang lebih singkat dan efektif dengan tetap mempertahankan urutan isi serta sudut pandang pengarang asli.

Dalam proses penulisannya tentu dengan berhati-hati, karena ringkasan tidak boleh campur aduk dengan opini atau pun komentar dari si pembuat ringkasan.

Ringkasan juga memiliki perbedaan mendasar dengan ikhtisar, meskipun kedua istilah tersebut sering dan seakan-akan memiliki arti yang sama, kenyataannya jelas berbeda.

Adapun pengertian kompetensi profesional adalah kecakapan, kemampuan, pengetahuan dan keterampilan oleh seorang pendidik, pengajar, pembimbing peserta didik dalam proses belajar mengajar.

Sehingga kompetensi profesional itu merupakan kemampuan seorang guru dalam mengelola proses belajar mengajar.

Kemampuan mengelola pembelajaran didukung oleh pengelolaan kelas, penguasaan materi belajar, strategi mengajar dan penggunaan media belajar.

Berikut ini rangkuman materi tes PPPK kompetensi profesional bahasa Indonesia yang terdiri atas makna denotasi, konotasi, simpulan, ide pokok, kalimat utama, dan ringkasan teks.

Selain itu, kalimat pro kontra, kalimat yang mengungkap keunggulan dan kelemahan buku, latar kutipan cerpen, bukti watak, dan cara pengarang menggambarkan tokoh.

Tes Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia

Ringkasan 7 materi PPPK kompetensi profesional bahasa Indonesia ini tentang keterampilan menyimak dan membaca. Keduanya tergolong ke dalam keterampilan reseptif.

Selain materi berupa ringkasan, Anda dapat juga menyimak video berikut agar lebih siap dalam menghadapi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia.

Ringkasan 7 Materi Keterampilan menyimak dan Membaca

A. Keterampilan Menyimak
1. Pengertian/Hakikat

Secara lengkap, menyimak berarti kegiatan mendengarkan bunyi bahasa secara sungguh-sungguh, seksama.

Selain itu juga sebagai upaya untuk memahami ujaran pembicara dengan melibatkan seluruh aspek mental kejiwaan seperti mengidentifikasi, mengintepretasi, dan mereaksinya.

2. Proses Menyimak

Proses menyimak merupakan proses yang tidak saja melibatkan aspek fisik tetapi juga aspek mental. Pandangan kognitif menyatakan bahwa dalam proses menyimak informasi linguistik diproses oleh sejumlah kognitif: perhatian (attention), persepsi (perception), dan ingatan (memory).

Tahap Proses Menyimak
a. Persepsi (Perception).

Fase mempersepsi rangsangan oleh telinga dan penambahan sinyal berupa gambar oleh mata.

Dalam fase ini sangat membutuhkan fisik yang prima karena dapat mempengaruhi daya tangkap terhadap sinyal pembawa pesan.

Segmentasi (Parsing).

Fase berikutnya adalah pembagian ke dalam segmen-segmen tertentu sesuai dengan unit-unit kebahasaan (sintactic structure atau syntactic meaning) oleh penyimak.

Pemanfaatan (Utilisation).

Fase ini merupakan fase yang menentukan pemahaman lebih lanjut karena penyimak mencoba mencocokkan dan menghubungkan pemahaman penyimak.

Sedangkan pemanfaatan itu sendiri berdasarkan persepsi terhadap pesan yang baru saja diperoleh dengan persepsi yang timbul setelah dikaitkan dengan pesan yang sudah ada sebelumnya.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Secara umum faktor-faktor tersebut dapat digolongkan ke dalam dua golongan besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal yaitu penyimak sebagai penerima pesan dan faktor eksternal berupa segala sesuatu di luar penyimak yang dapat mempengaruhi pemahaman.

Sebuah proses komunikasi yang ideal menuntut saling pengertian antara pengirim dan penerima pesan.

Di dalam situasi seperti ini terdapat sebuah tuntutan bahwa sebagai penyampai pesan, seorang pembicara harus menjadi pembicara ideal yang memenuhi prasyarat sesuai dengan mitra bicaranya.

4. Jenis-Jenis Menyimak

jenis menyimak dalam 5 tipe yaitu: diskriminatif (discriminative), komprehensif (comprehensive), terapeutik (therapeutic), kritis (critical), dan apresiatif (apreciative).

a. Diskriminatif (discriminative).

Menyimak diskriminatif merupakan menyimak yang bertujuan untuk membedakan rangsang bunyi atau visual yang merupakan dasar dari tujuan menyimak

b. Komprehensif (comprehensive).

Menyimak komprehensif ini bertujuan untuk memahami pesan.

Selain itu kegiatan menyimak komprehensif ini merupakan menyimak yang mendasari jenis menyimak yang lain yaitu menyimak terapeutik, menyimak kritis, dan menyimak apresiatif.

Sedangkan dasar dari semua jenis menyimak tersebut memang harus ada pemahaman terhadap pesan yang disampaikan dengan media audio dan atau audio visual.

c. Terapeutik (therapeutic).

Menyimak terapeutik merupakan menyimak untuk menyediakan kesempatan untuk berbicara melalui sebuah pemasalahan. Hal ini tampak pada percakapan antar pasien dan dokter, atau psikolog dengan pasiennya.

d. Kritis (critical).

Menyimak kritis merupakan menyimak yang bertujuan untuk mengevaluasi pesan. Hal ini merupakan kemampuan yang dapat dilakukan oleh penyimak tingkat mahir.

Karena untuk mengevaluasi pesan diperlukan penguasaan terhadap bahasa yang menjadi pengantar pesan tersebut juga penguasaan terhadap makna yang komprehensif.

e. Apresiatif (apreciative).

Menyimak apresiatif merupakan jenis menyimak yang bertujuan untuk memperoleh kesenangan melalui karya atau pengalaman orang lain.

Apresiasi adalah bentuk penghargaan yang diberikan kepada pembuat/pencipta suatu karya atau pemilik pengalaman tertentu.

Untuk dapat menghargai sebuah karya sebagai contoh karya sastra, penyimak harus terlebih dahulu mempunyai bekal pengetahuan tentang struktur sastra yang diapresiasinya karena tanpa pengetahuan tersebut, penyimak akan menemukan kesulitan ketika memahami isi atau maknanya.

Artikel Populer Lainnya:

1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 4

2. Baca Dulu Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 5

5. Strategi dan Teknik Menyimak
a. Kognitif (cognitive).

Strategi kognitif di dalam menyimak merupakan strategi yang fokus pada proses, interpretasi, penyimpanan dan recall (pemanfaatan) ingatan dalam menyimak.

b. Repetisi

Menirukan model bahasa dengan tindakan praktik atau berlatih diam diam.

c. Pemanfaatan sumber:

Menggunakan materi yang merujuk pada bahasa target.

d. Penerjemahan:

Menggunakan bahasa pertama untuk memahami atau memproduksi bahasa kedua.

e. Pengelompokan:

Mengurutkan kembali atau mengelompokkan dan menamai sumber materi belajar berdasar sifatnya.

f. Membuat catatan:

Menuliskan ide pokok, hal-hal penting, kerangka, ringkasan informasi yang disampaikan secara lisan atau dalam tulisan.

g. Deduksi:

Secara sadar menerapkan aturan untuk memproduksi atau memahami bahasa kedua.

h. Rekombinasi

Menyusun kalimat yang bermakna atau susunan kebahasaan yang lebih besar dengan mengkombinasikan bagian-bagian yang dikenal dengan cara yang baru.

i. Imageri

Menghubungkan informasi baru ke dalam konsep visual dalam ingatan yang familiar.

j. Representasi auditori:

Retensi bunyi atau bunyi-bunyi yang mirip untuk kata, frasa, atau urutan kebahasaan yang lebih panjang.

k. Kata kunci:

Mengingat   kata   baru   dalam   bahasa   kedua   dengan mengidentifikasi kata yang familiar dalam bahasa pertama yang terdengar mirip, dan dengan cara mengingat yang secara umum lebih mudah.

l. Kontekstualisasi:

Menempatkan   kata   atau   frasa   dalam   urutan kebahasaan yang bermakna.

m. Elaborasi:

Menghubungkan informasi baru untuk konsep lain dalam ingatan.

l. Transfer:

Memanfaatkan bahasa yang diperoleh sebelumnya dan atau pengetahuan konseptual untuk memfasilitasi tugas pembelajaran bahasa yang baru.

l. Rujukan:

Memanfaatkan informasi yang tersedia untuk menduga makna kata baru, memprediksi luaran, atau mengisi informasi yang hilang.

Strategi Kognitif
1). Pembuatan Catatan (Note Taking).

Pembelajaran menyimak bahasa Indonesia bagi orang Indonesia bukan hanya sekedar mendengarkan kata dan memahaminya satu per satu akan tetapi lebih sebagai keterampilan pemahaman wacana secara keseluruhan.

Kemampuan penyimak dapat teridentifikasi dari sejauh mana kelengkapan informasi saat proses menyimak berlangsung.

Sedangkan bentuk tagihan tugas  adalah penyimak membuat catatan hasil menyimak.

2). Penggambaran (Imagery).

Strategi kognitif adalah dengan cara menghubungkan informasi dengan konsep visual.

Tagihannya biasanya adalah pembuatan mind map yaitu menghubungkan antar konsep dalam bentuk gambar yang dapat dicermati keterkaitan atau hubungannya.

3)  Kata Kunci (Keyword).

Tugas menyimak yang lain adalah menuliskan kata-kata kunci yang merupakan inti dari informasi yang diperoleh pada saat proses menyimak yang berlangsung.

Inti informasi bergantung dari jenis materi yang disimak, sebagai contoh materi cerpen intinya adalah struktur, tetapi inti dari siaran berita adalah unsur utama yang biasanya disingkat menjadi 5W+1H (who, what, when, were + How).

4)  Elaborasi (Elaboration).

Setelah proses menyimak berlangsung, penyimak dapat menghubungkan informasi baru dengan konsep lain yang terdapat dalam ingatannya.

Bentuk tagihannya dapat berupa menuliskan gagasan penyimak dalam bentuk esai sederhana yang berisi gagaasan, pikiran, pendapat yang diperoleh dari proses menyimak dan hubungannnya dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya oleh penyimak.

5)  Transfer.

Penyimak juga dapat memindahkan bahasa yang sudah dikuasai sebelumnya untuk mendukung tugas baru dalam hal pembelajaran bahasa.

Misalnya hasil dari proses pembelajaran menyimak untuk menyelesaikan tugas menulis atau berbicara.

Artikel Populer Lainnya:

1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 6

2. Raih Skor Tertinggi Seleksi PPPK Tahun 2021 dengan Belajar Ringkasan Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 8!

Metakognitif (Metacognitive)

Yaitu strategi yang berfungsi untuk mengelola dan memfasilitasi proses mental, serta mengatasi kesulitan selama menyimak. Strategi ini tidak hanya melibatkan aspek kognitif, tetapi juga aspek mental atau psikis.

Strategi ini memungkinkan pembelajar mengontrol proses belajarnya secara mandiri serta melibatkan pembelajar dalam mengevaluasi pencapaiannya secara mandiri sehingga pembelajar dapat mengetahui kesulitannya dalam belajar bahasa.

Secara khusus terdapat beberapa strategi yang termasuk dalam strategi metakognitif yaitu sebagai berikut.

1). Pengatur andal (advance organizers):

Membuat rancangan konsep yang cukup menyeluruh untuk mengantisipasi aktivitas pembelajaran.

2)   Perhatian langsung:

Memutuskan  untuk mengikuti tugas pembelajaran dan mengabaikan pengecoh yang tidak relevan.

3)  Perhatian terpilih:

Memutuskan untuk mengikuti aspek tertentu dari masukan pembelajaran atau detil situasional yang akan menandai retensi masukan bahasa.

4)  Pengelola yang mandiri:

Memahami kondisi yang membantu seseorang belajar dan melibatkan diri dalam kondisi tersebut.

5)   Perencanaan fungsional:

Membuat rencana dan melatih komponen bahasa yang penting untuk membawa tugas belajar yang selanjutnya.

6)  Monitoring secara mandiri:

Mengoreksi percakapan seseorang dalam hal ketepatan, ucapan, tata bahasa, kosakata, atau hubungan yang dengan setting atau dengan pembicara.

7)  Menunda produksi:

Secara sadar memutuskan untuk berhenti berbicara untuk belajar menandai melalui menyimak komprehensif.

8)  Evaluasi mandiri:

Mengecek hasil dari belajar bahasa seseorang, mengukur secara internal kelengkapan dan ketepatan.

Strategi tersebut berlaku secara umum dalam pembelajaran bahasa. Dalam pembelajaran keterampilan menyimak, strategi tersebut tetap dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.

Adapun secara umum berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran menyimak dan evaluasi mandiri terhadap proses belajar menyimak yang sudah dilakukan.

Paparan dalam bentuk video terkait strategi membaca selengkapnya sebagai berikut.

Sosial-Afektif (Social-Affective)

Strategi sosial-afektif merupakan strategi menyimak yang melibatkan pihak lain dalam prosesnya.

Dalam hal ini selama proses menyimak, penyimak memerlukan bantuan orang lain untuk membantu pemahaman

B. Keterampilan Membaca
1. Pengertian Membaca

Definisi membaca adalah aktivitas kompleks yang mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah.

Membaca tidak hanya melihat suatu bacaan, tetapi memerlukan konsentrasi untuk memahami dan mengingat-ingat isi bacaan.

2. Tujuan Membaca

1) Membaca untuk memperoleh fakta dan rincian.

2) Membaca untuk memperoleh ide-ide utama.

3) Membaca untuk mengetahui urutan/susunan struktur karangan.

4) Membaca untuk menyimpulkan.

5) Membaca untuk mengelompokkan.

6) Membaca untuk menilai/mengevaluasi.

7) Membaca untuk memperbandingkan

Tujuan utama membaca adalah untuk mencari dan memperoleh informasi, mencakup isi dan makna bacaan. Makna berhubungan erat dengan tujuan dan keintensifan dalam membaca.

Secara rinci tujuan membaca adalah sebagai berikut.

1) Membaca  untuk  menemukan  atau  mengetahui  penemuan  tokoh,  tindakan tokoh, apa yang terjadi pada tokoh, atau untuk memecahkan permasalahan tokoh.

2) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik masalah yang terjadi dalam cerita, apa yang dialami tokoh, dan merangkum tindakan-tindakan tokoh.

3) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita.

4) Membaca untuk menemukan dan mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka, apa yang hendak diperlihatkan kepada pembaca, mengapa para tokoh berubah, dan berhasil atau gagal.

5) Membaca untuk menemukan dan mengetahui apa yang wajar, lucu, benar dan tidak benar dalam cerita

6) Membaca  untuk  menemukan  apakah  tokoh  berhasil,  apakah  pembaca  akan bekerja seperti cara tokoh.

7) Membaca  untuk  menemukan  bagaimana  cara  tokoh  berubah,  bagaimana perbedaan kehidupan tokoh dengan kehidupan yang dikenal pembaca, bagaimana persamaan dan perbedaan tokoh dengan apa yang dialami pembaca.

Artikel Populer Lainnya:

Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 9

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Membaca

Tiga elemen utama yang mempengaruhi pemahaman pembaca, yaitu pembaca, teks, dan aktivitas di mana pemahaman menjadi bagiannya.

Aspek pembaca berkenaan dengan semua kapasitas, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang digunakan seseorang dalam kegiatan membaca.

Teks adalah teks cetak atau teks elektronik apa pun, sedangkan aktivitas adalah tujuan, proses, dan konsekuensi yang berhubungan dengan kegiatan membaca.

Pendapat lain mengemukakan bahwa secara garis besar komprehensif membaca dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu yang berasal dari dalam diri pembaca dan di luar diri pembaca.

Faktor-faktor yang berada di dalam diri pembaca meliputi kemampuan linguistik (kebahasaan), minat (seberapa besar kepedulian pembaca terhadap bacaan yang dihadapinya), motivasi (seberapa besar kepedulian pembaca terhadap tugas membaca), dan kemampuan membaca (seberapa baik pembaca dapat membaca).

Faktor-faktor di luar diri pembaca dikategorikan menjadi dua, yaitu unsur-unsur bacaan dan lingkungan pembaca.

Unsur-unsur bacaan meliputi kebahasaan teks dan organisasi teks. Kualitas lingkungan meliputi persiapan guru (sebelum, pada saat, dan setelah membaca), cara murid menanggapi tugas, dan suasana umum penyelesaian tugas (hambatan, dorongan, dan sebagainya).

4. Jenis-Jenis Membaca

Ada berbagai macam pengelompokan jenis membaca
(1) atas dasar terdengar atau tidaknya suara pembaca.

(2) atas dasar keintensifanya.

Menurut bersuara dan tidaknya, membaca dikelompokkan menjadi dua, yaitu membaca nyaring dan membaca bersuara.

Berdasarkan keintensifannya dibedakan atas membaca ekstensif dan intensif. Selanjutnya, membaca intensif dikelompokkan menjadi tiga yaitu membaca survei, sekilas, dan dangkal.

Selain itu, membaca intensif dibedakan atas membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi dikelompokkan   menjadi   tiga   yaitu   membaca   teliti,   membaca   pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide.

Sedangkan membaca telaah Bahasa dibedakan menjadi dua yaitu membaca bahasa dan membaca sastra.

5. Berbagai Jenis Membaca dalam Pembelajaran Keterampilan Membaca di Sekolah
a. Membaca Cepat

Membaca cepat sebagai bagian dari membaca ekstensif adalah kegiatan membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tanpa mengabaikan pemahaman.

Artinya, dalam proses membaca kecepatan membaca harus disertai dengan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan.

Kecepatan membaca juga terpengaruh oleh berbagai hal seperti tujuan membaca, tingkat keterbacaan, bahan bacaan, teknik atau strategi membaca, motivasi serta hal-hal lain sebagai penentu keberhasilan membaca.

b. Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman merupakan proses menyadap (extracting) dan mengkonstruksi (constructing) makna melalui interaksi dan keterlibatan dengan bahasa   penulis.

Penggunaan   kata   extracting   ‘menyadap’   dan   constructing ‘mengonstruksi’   untuk   memberikan   tekanan   pada   pentingnya   dan   kurang memadai teks sebagai faktor penentu dalam membaca pemahaman.

Pemahaman memerlukan tiga elemen utama, yaitu pembaca yang melakukan pemahaman, teks yang dipahami, dan aktivitas di mana pemahaman menjadi bagiannya.

Ketiga elemen di atas memiliki batasan atau ruang lingkup masing-masing. Elemen pembaca adalah semua kapasitas, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang digunakan seseorang dalam kegiatan membaca.

c. Membaca Kritis

Kemampuan membaca kritis adalah kemampuan pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis untuk menemukan keseluruhan makna bahan bacaan baik makna tersurat maupun tersirat melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis, mensintesis, dan menilai.

Mengolah secara kritis artinya dalam proses membaca seorang  pembaca  tidak  hanya  menangkap  makna  yang  tersurat  tetapi  juga menemukan makna antar baris, dan makna di balik baris .

Membaca kritis terhadap teks-teks bacaan biasanya akan menjadi persiapan dalam menghasilkan tulisan.

Ciri pembaca kritis. Seseorang sebagai pembaca kritis bila:

(1) dalam kegiatan membaca selalu melibatkan kemampuan berpikir kritis,

(2) tidak begitu saja menerima apa yang dikatakan penulis,

(3) membaca kritis adalah usaha mencari kebenaran yang hakiki,

(4) membaca kritis selalu terlibat dengan permasalahan mengenai gagasan dalam bacaan,

(5) membaca kritis adalah mengolah bahan bacaan bukan mengingat,

(6) hasil membaca diterapkan.

Dalam membaca kritis, ada berbagai jenis keterampilan yang dilakukan.

Beberapa jenis keterampilan tersebut ialah:

(1) menemukan informasi faktual,

(2) menemukan ide pokok yang tersirat,

(3) menemukan unsur urutan, perbandingan, dan sebab akibat yang tersirat,

(4) menemukan suasana,

(5) membuat simpulan,

(6) menemukan tujuan penulis,

(7) memprediksi dampak,

(8) membedakan opini dan fakta,

(9) membedakan realitas dan fantasi,

(10) mengikuti petunjuk,

(11) menemukan unsur propaganda,

(12) menilai keutuhan gagasan,

(13) menilai kelengkapan antar gagasan,

(14) menilai kesesuaian antar gagasan,

(15) menilai keruntutan gagasan,

(16) menilai kesesuaian antara judul dan isi bacaan,

(17) membuat kerangka bahan bacaan, dan

(18) menemukan tema karya sastra.

6. Metode dan Strategi Membaca
a. DRTA (Directed reading–thinking activity)

DRTA merupakan strategi pengajaran untuk memberikan pengalaman kepada anak dalam memprediksi penulis, membaca teks untuk mengkonfirmasi atau meninjau kembali prediksi dan mengelaborasi respon.

Proses pembelajaran dengan pendekatan DRTA melibatkan pembaca dalam tiga langkah dasar:

1)  memprediksi beberapa informasi dengan membuat beberapa pertanyaan dan kemungkinan jawaban dari teks.

2)  membaca teks dengan cermat, dengan senantiasa memikirkan pertanyaan.

3)  membuktikan – dengan disertai bukti-bukti dari teks – apa yang telah serta membuat kesimpulan- kesimpulan hasil membaca.

b. Strategi PQRS

Langkah-langkah strategi PQRS selengkapnya sebagai berikut.

a) P = preview (meninjau). Anak melakukan scanning terhadap sebuah bab atau halaman, untuk menemukan judul, sub judul, diagram, atau gambar.

Dengan cara itu, kemungkinan kesan umum mengenai seperti apa teks itu dapat diperoleh. Tanyakan kepada anak atau mintalah anak untuk bertanya pada diri sendiri, “Apa yang sudah saya ketahui tentang teks itu?”

b) Q = question (mempertanyakan). Anak membuat beberapa pertanyaan di dalam hati.

  • Apa yang dapat saya harapkan ketika belajar dari teks itu?
  • Adakah informasi yang bisa saya peroleh mengenai berapa banyak butir-butir pembiayaan?
  • Adakah informasi yang bisa menjawab pertanyaan berikutnya yang ada di dalam lembar pekerjaan rumah saya?
  • Apakah saya perlu membaca bagian teks itu secara cermat, atau bisakah jika saya hanya melakukan skimming?

c) R = read (membaca) Anak membaca halaman itu dengan cermat untuk mendapatkan informasi. Di samping itu, anak bisa melakukan baca-ulang pada bagian-bagian yang sulit. Tanyakan;

  • Apakah pertanyaan saya sudah terjawab?
  • Haruskah saya mengeceknya lagi?
  • Apakah saya sudah memahami apa saja yang ada di halaman itu?

d) S = summarise (meringkas). Anak menyatakan dengan singkat dengan kata-katanya sendiri butir-butir utama yang ada di dalam teks atau menarik kesimpulan atas apa yang sudah dibacanya.

Demikianlah ringkasan 7 materi PPPK kompetensi profesional bahasa Indonesia 2021. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: