Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 3

Blogdope.com – Para calon peserta tes seleksi PPPK tahun 2021 perlu mempelajari ringkasan materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia untuk memperbesar peluang lolos seleksi PPPK formasi tahun 2021. Paparan berikut berisi rangkuman materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia bagian 2.

Rangkuman Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia bagian 3 ini tersusun berdasarkan indikator esensial yang terbit 2019. Adapun indikator esensial untuk tes tahun 2021 tidak jauh berbeda dari tahun 2019.

Pada kesempatan kali ini akan disajikan rangkuman materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia. Jadi, dalam ringkasan materi ini khusus membahas tentang materi  bahasa Indonesia.

ringkasan materi tes pppk kompetensi profesional bahasa indonesia
tes pppk kompetensi profesional

Artikel Populer Lainnya:

1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 1

2. Baca Dulu Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 2

3. Raih Skor Tertinggi Seleksi PPPK Tahun 2021 dengan Belajar Ringkasan Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 4!

Rangkuman Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia SMP 2021 Bagian 3

Ringkasan atau rangkuman adalah penyajian karangan atau peristiwa yang panjang ke dalam bentuk yang lebih singkat dan efektif dengan tetap mempertahankan urutan isi serta sudut pandang pengarang asli.

Sedangkan dalam proses penulisannya tentu dengan berhati-hati, karena ringkasan tidak boleh campur aduk dengan opini ataupun komentar dari si pembuat ringkasan.

Ringkasan juga memiliki perbedaan mendasar dengan ikhtisar, meskipun kedua istilah tersebut sering dan seakan-akan memiliki arti yang sama, kenyataannya jelas berbeda.

Adapun pengertian kompetensi profesional adalah kecakapan, kemampuan, pengetahuan dan keterampilan oleh seorang pendidik, pengajar, pembimbing peserta didik dalam proses belajar mengajar.

Sehingga kompetensi profesional itu merupakan kemampuan seorang guru dalam mengelola proses belajar mengajar.

Kesimpulannya kemampuan mengelola pembelajaran didukung oleh pengelolaan kelas, penguasaan materi belajar, strategi mengajar dan penggunaan media belajar.

Berikut ini rangkuman materi tes PPPK kompetensi profesional bahasa Indonesia yang terdiri atas makna denotasi, konotasi, simpulan, ide pokok, kalimat utama, dan ringkasan teks.

Selain itu, kalimat pro kontra, kalimat yang mengungkap keunggulan dan kelemahan buku, latar kutipan cerpen, bukti watak, dan cara pengarang menggambarkan tokoh.

Tes Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia

A. Penggunaan Huruf Miring

Dalam pada itu, penggunaan huruf miring dalam EYD dalam ketikan menggunakan jenis huruf italic. Jika dengan tulisan tangan, huruf atau kata yang akan tercetak miring bergarisbawah. Berikut ini kaidah penggunaan huruf miring.

1. Huruf miring dalam cetakan untuk mengkhususkan atau menegaskan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata. Contoh: Mahasiswa sedang ujian skripsi.

2. Huruf miring untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh: Setiap hari bapak membaca koran Kompas.

3. Judul makalah, skripsi, tesis, atau disertasi yang belum terbit dan dirujuk dalam tulisan tidak tertulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.

4.  Huruf miring berguna untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia, seperti bahasa daerah dan bahasa asing.

Contoh: Istilah symbolic violence dikenalkan oleh Pierre Bourdieu.

5. Ungkapan asing yang telah terserap ke dalam bahasa Indonesia tidak tercetak miring. Contoh: Registrasi mahasiswa baru dilaksanakan pada bulan Juni.

Artikel Populer Lainnya:

1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 5

2. Baca Dulu Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 6

B.  Penggunaan Huruf Cetak Tebal

1.  Huruf cetak tebal berguna untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.

Contoh:

Judul : BAHASA INDONESIA UNTUK PERGURUAN TINGGI

Bab : BAB I SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

Bagian bab : A. Sejarah Bahasa Indonesia

                       B. Perkembangan Bahasa Indonesia

Daftar, indeks, dan lampiran

DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL , DAFTAR PUSTAKA , DAFTAR LAMPIRAN, INDEKS LAMPIRAN

2. Huruf cetak tebal berguna untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi dalam kamus.

Contoh:

Abad n

a.  masa seratus tahun: ….;

b.  jangka waktu yang lamanya seratus tahun…;

c.  zaman (yang lamanya tidak tentu);

d. masa yang kekal, tidak berkesudahan;

Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan tercetak tebal diberi garis bawah ganda.

C.  Tanda Baca

Seorang penulis harus tepat menggunakan tanda baca dalam tulisannya. Penulisan teks Bahasa Indonesia harus memperhatikan beberapa aturan penulisan tanda baca berikut.

1. Penggunaan Tanda Titik (.)

c. Tanda titik pada akhir kalimat berita. Contoh: Anak itu sedang menunggu angkutan umum.

b. Tanda titik tidak pada akhir kalimat sudah berakhir dengan tanda titik, tanya, dan seru.

Contoh: Guru berkata, ”Tolong tutup pintu itu!”

c. Tanda titik untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Contoh: 15.30.05 jam (15 jam , 30 menit, 05 detik)

d. Tanda titik untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Contoh: pukul 23.00.00

e. Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 12 dapat lengkap dengan keterangan pagi, siang, sore, atau malam. Contoh: pukul 05.00 pagi

f. Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 24 tidak memerlukan keterangan pagi, siang, atau malam. Contoh: pukul 15.20

g. Tanda titik untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah. Contoh: Kuliah umum itu mengundang 1.115 peserta.

h. Tanda titik dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit. Contoh: Gumperz, John J. 1992. Discourse Strategy. Cambridge: Canmbridge University Press.

i. Tanda titik tidak untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Contoh: Nomor plat kendaraannya AB 1692 RE

j. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, nama bab, subbab, tabel, dan sebagainya.

Contoh: Pola Interaksi Dosen dan Mahasiswa BAB I PENDAHLUAN Latar Belakang Masalah Tabel 1: Kesalahan Diksi Lampiran 3: Instrumen Kesalahan Kalimat

2. Penggunaan Tanda Koma (,)

a. Tanda koma dalam suatu perincian atau pembilangan (minimal tiga unsur)

Contoh: Kami memerlukan piring, sendok, dan garpu.

b. Tanda koma di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh: Siti Badilah, M.A. Dr. Nadhifa F.A., M.Si.

c. Tanda koma di muka angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh: 162, 5 cm Rp1.650,55

d. Tanda koma untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang bermula dengan kata seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali.

Contoh: Semua peserta seminar masuk ruang ini, kecuali panitia.

e. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

Contoh: Jika tidak ada halangan, saya akan datang pada acara itu.

f. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Contoh: Saya akan datang pada acara itu jika tidak ada halangan.

g. Tanda koma untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

Contoh: Banyak hal yang belum dikerjakan, misalnya, membuat proposal, seminar, dan menyusun laporan.

h.Tanda koma di belakang penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, oleh sebab itu, dan meskipun demikian. Kata hubung tersebut terletak pada awal kalimat dan tidak boleh bertempat pada awal paragraf.

Contoh: Orang tuanya memiliki kekuasaan di kampung itu. Meskipun demikian, anak itu tidak mau sewenang-wenang memanfaatkan kekuasaan orang tuanya.

i. Tanda koma untuk memisahkan o, ya, wah, aduh, dan kasihan.

Contoh: Kasihan, semua data di komputernya terkena virus.

j. Tanda koma untuk memisahkan kata sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.

Contoh: Sudah selesai, Mas?

k. Tanda koma untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh: Paman berkata, ”Nenek ke mana?”

l. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Contoh: “Siapa nama kamu?” tanya Lina.

Artikel Populer Lainnya:

1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 7

2. Raih Skor Tertinggi Seleksi PPPK Tahun 2021 dengan Belajar Ringkasan Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 8!

m. Tanda koma dipakai di antara

(a) nama dan alamat, (b) bagian bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Contoh: Bpk. Ujang Juhari, Karangpawitan, Karawang. Kajur PBSI, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

n. Tanda koma untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh: Gumperz, John J. 1992. Discourse Strategy. Cambridge: Canmbridge University Press.

o. Tanda koma di antara bagian bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh: Alisjahbana, S. Takdir, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.

p. Tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca/salah pengertian di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Contoh: Setelah menggigit, nyamuk tersebut akan meninggalkan plasmodium.

3.  Penggunaan Titik Koma (;)

a. Tanda titik koma untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.

Contoh: Kakak membuatkan kopi untuk ayah; ibu mengoreksi tugas mahasiswa; adik bermain di halaman depan rumah.

b. Tanda titik koma untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Sebelum rincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan.

Contoh: Persayaratan yang harus dipenuhi antara lain:

(1) mahasiswa S1 aktif minimal semester 5;

2) menguasai ilmu Sastra Indonesia;

3) IPK minimal 3.25; (4) dapat bekerja dalam tim.

c. Tanda titik koma untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu terpisah oleh tanda baca dan kata hubung.

Contoh: Mahasiswa melakukan kegiatan pramenulis: menentukan masalah, tema, topik, dan membuat judul; menulis: menuangkan ide/gagasan secara tertulis; pascamenulis: merevisi tulisan dan mempublikasikannya

4. Penggunaan Titik Dua (:)

a Tanda titik dua di antara

(1) tahun dan halaman dalam kutipan,

(2) bab dan ayat dalam kitab suci,

(3) judul dan anak judul suatu karangan, serta

(4) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Contoh: Soeparno (2002: 15) Yogyakarta: Tiara Wacana

b. Tanda titik dua sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh: Bendahara : Muhammad Ibrahim

c. Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Contoh: Dhifa : ”Siapa yang datang, Dik?”

                Kia : ”Kakek dan nenek.”

d. Tanda titik dua pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian atau pemerian.

Contoh: Kita harus mengerjakan hal-hal berikut: mencari referensi, memahaminya, membuat rangkuman, dan mempresentasikannya.

5. Penggunan Tanda Hubung (-)

a. Tanda hubung untuk menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.

Contoh: Kami akan membawa beberapa buku refe-

rensi.

b. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.

Contoh: Pihak universitas menjelaskan tata cara pengisi-

an PUPNS.

c. Tanda hubung untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.

Contoh: kupu-kupu bermain-main.

d.  Tanda hubung untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf dalam kata yang dieja satu-satu.

Contoh: 24-10-2015 t-a-h-u-n

e.  Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas

(1) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan dan

(2) penghilangan bagian frasa atau kelompok kata.

Contoh: Karyawan boleh mengajak anak-istri ke acara pertemuan besok. Bandingkan dengan: be-revolusi dua-puluh-ribuan (1 x 20.000) tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial.

f. Tanda hubung untuk merangkai se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital. Contoh: se-Indonesia se-Asia

g. Tanda hubung untuk merangkai ke- dengan angka.

Contoh: ke-5 ke-12

h. Tanda hubung dipakai untuk merangkai angka dengan an-

Contoh: tahun 2000-an tahun 1970-an

i. Tanda hubung untuk merangkai kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital. Contoh: hari-H mem-PHK

j. Tanda hubung untuk merangkai kata ganti Tuhan yang berbentuk imbuhan.

Contoh: Kuasa-Nya Kepada-Mu

k.  Tanda hubung untuk merangkai gabungan kata yang merupakan satu kesatuan.

Contoh: bandara internasional Soekarno-Hatta

l. Tanda hubung untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Contoh: meng-install di-upgrade

6.  Penggunaan Tanda Tanya (?)

a. Tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya.

Contoh: Apakah kita wajib membaca buku ini?

b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Contoh: Nilai kami B (?) semua.

7. Penggunaan Tanda Seru (!) Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah dan menggambarkan emosi penutur.

Contoh: Tolong tutup pintu itu!

8.  Penggunaan Tanda Petik Tunggal (‘…’)

a. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan.

Contoh: pandai ’tukang tempa’ pinang ’lamar’

b. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain. Contoh: “Dia menyapa ‘hallo’ kepada teman barunya.”

c. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing.

Contoh: download ‘unduh’ upload ‘unggah’

9. Penggunaan Tanda Petik Dua (“…”)

a. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.

Contoh: Paman berkata, “Ibu kamu akan datang besok pagi.”

b. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Contoh: Pencipta puisi yang berjudul ”Puisi Ibu” adalah Chairil Anwar.

c. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Contoh: Banyak orang bertanya tentang “laki-laki” itu.

d. Tanda petik (“) dapat digunakan sebagai pengganti idem atau sda. (sama dengan di atas) atau kelompok kata di atasnya dalam penyajian yang berbentuk daftar.

Contoh: “zaman” bukan “jaman”

Artikel Populer Lainnya:

Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 9

10. Penggunaan Tanda Kurung ( (… ) )

a. Tanda kurung digunakan untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Contoh: Presiden akan bertemu dengan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).

b. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.

Contoh: Pembahasan tentang filsafat bahasa (lihat bab 3) sangat kompleks.

c. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Contoh: Kata pandai (a) memiliki sinonim pintar (a).

d. Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci urutan keterangan. Contoh: Permasalahan pembelajaran dapat ditemukan dari: (1) media pembelajaran yang digunakan, (2) interaksi antara siswa dengan guru, dan (3) interaksi antarsiswa.

11. Penggunaan Tanda Garis Miring (/) a) Tanda garis miring digunakan di dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun kalender atau tahun ajaran.

Contoh: Nomor 15/JK/2015 Jalan Wonosari 9/115 b) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan ataupun. Contoh: Semua keputusan tergantung pilihan kakek/nenek.

Demikianlah paparan mengenai Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia. Terima kasih dan Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: