* Inilah Beberapa Instrumen Kebijakan Moneter yang Perlu Anda Ketahui

Simak, Inilah Beberapa Instrumen Kebijakan Moneter yang Perlu Anda Ketahui!

Blogdope.comSimak, inilah beberapa instrumen kebijakan moneter yang perlu Anda ketahui. Kebijakan moneter adalah serangkaian regulasi untuk mengatur pergerakan perekonomian suatu negara.

Untuk mewujudkan peraturan atau regulasi kebijakan moneter tersebut, tentu membutuhkan instrumen-instrumen.

Terdapat beberapa jenis instrumen kebijakan moneter yang perlu Anda ketahui.

Artikel ini akan membahas secara lengkap instrumen kebijakan moneter yang umum diberlakukan oleh bank sentral.

Selengkapnya sebagai berikut.

Baca Juga: [UNDUH] Modul Pembelajaran IPS Berbasis Aktivitas Kelas 9 SMP/MTs

Instrumen Kebijakan Moneter

instrumen kebijakan moneter
Macam-macam Instrumen Kebijakan Moneter

1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)

Operasi pasar terbuka atau open market operation merupakan salah satu instrumen kebijakan moneter yang paling umum.

Asesmen instrumen ini dilakukan dengan cara membeli (open market buying) dan menjual (open market selling) terhadap obligasi dan surat berharga pemerintah.

Langkah membeli dan menjual obligasi pemerintah ini adalah bentuk kebijakan tidak langsung dan bersifat sangat fleksibel.

Adapun tujuan penerapan instrumen ini ialah mengubah jumlah cadangan yang dimiliki bank. Selain itu juga untuk menekan atau menambah peredaran uang di masyarakat.

Dalam operasi pasar terbuka, terdapat beragam surat berharga atau obligasi yang dapat dibeli atau dijual pemerintah.

Misalnya Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), dan Surat Berharga Negara (SBN).

2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)

Discount Rate atau pemberian fasilitas diskonto dilakukan agar bank-bank umum meminjam dana dari bank sentral. Sehingga jumlah uang yang beredar melalui bank menjadi terkontrol.

Besaran diskon ditetapkan sesuai tujuan bank sentral saat menyelenggarakan diskon.

Jika bank sentral bertujuan untuk menambah jumlah uang yang beredar, maka tingkat diskonto akan diturunkan. Diskonto ini dapat berupa penurunan suku bunga bank sentral.

Imbas dari tindakan ini akan mendorong pelaku pasar untuk mengajukan pinjaman.

Sehingga terjadi peningkatan likuiditas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya jika bank sentral ingin mengurangi likuiditas, maka tingkat diskonto suku bunga akan dinaikkan.

Langkah ini akan berimbas pada ketidakmauan pelaku pasar dan bank umum untuk meminjam dana.

Efek penerapan instrumen diskonto bank sentral ini dapat memperlambat tingkat pertumbuhan ekonomi.

Bank sentral akan menaikkan tingkat diskonto.

3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)

Rasio cadangan wajib atau Reserve Requirement Ratio adalah batas jumlah cadangan uang atau kas yang harus dimiliki oleh bank umum.

Batasan berupa rasio cadangan wajib ditetapkan oleh bank sentral.

Untuk membatasi likuiditas, bank sentral akan menaikkan jumlah minimum cadangan uang pada bank umum.

Akibatnya, bank umum akan membatasi jumlah uang yang dipinjamkan kepada masyarakat.

Sebaliknya jika bank sentral akan memperluas likuiditas, maka syarat jumlah minimum cadangan akan diturunkan.

Dengan demikian bank umum memiliki lebih banyak dana untuk dipinjamkan.

Meskipun rasio cadangan wajib dapat diubah oleh bank sentral, tetapi instrumen ini sangat jarang diberlakukan.

Hal ini karena bank sentral perlu menerbitkan banyak dokumen yang harus disahkan oleh bank-bank umum.

4. Imbauan Moral (Moral Persuasion)

Kebijakan imbauan moral atau moral persuasion bersifat himbauan atau saran. Himbauan berasal dari bank sentral kepada bank-bank umum.

Pokok imbauan moral yang berasal dari bank sentral berisi anjuran agar bank umum lebih memperhatikan jumlah uang beredar di masyarakat.

Selain itu, bank sentral juga berpesan agar bank umum berhati-hati memberikan pinjaman. Agar tidak terjadi kredit macet di kemudian hari.

Kredit macet ini sendiri pada akhirnya akan menimbulkan inflasi.

5. Kredit Langsung

Bank sentral dapat memberikan kredit langsung kepada pihak yang membutuhkan pinjaman. Tentu saja instrumen ini berlaku pada kondisi tertentu.

Misalnya karena urusan mendesak dan berdasarkan skala prioritas.

Sedangkan pihak yang dapat menerima kredit langsung bank sentral di antaranya proyek, sektor, program, maupun kegiatan pembangunan.

6. Penetapan Uang Muka Impor

Untuk mengontrol cadangan devisa negara, bank sentral juga dapat memberlakukan instrumen penetapan uang muka impor.

Cara ini juga dapat dilakukan untuk mengendalikan peredaran uang.

Pemberlakukan penetapan uang muka impor mengharuskan importir untuk membayarkan sejumlah uang muka dengan persentase tertentu.

Uang muka ini berfungsi sebagai jaminan terhadap valuta asing yang mereka gunakan untuk membeli barang impor.

7. Fasilitas Overdraft (Overdraft Window)

Fasilitas overdraft atau overdraft window adalah pemberian suntikan dana berupa pinjaman kepada bank yang terancam likuidasi.

Bank-bank umum yang mengalami kesulitan likuiditas juga dapat menerima pinjaman dari bank sentral.

Tetapi sifat pinjaman dari bank sentral ini berjangka waktu pendek.

Suku bunga pinjaman pun lebih tinggi jika dibandingkan dengan pinjaman reguler.

8. Intervensi Nilai Mata Uang

Instrumen kebijakan moneter berupa intervensi nilai mata uang memiliki jangka waktu yang pendek. Berkisar mulai dari satu malam hingga paling lama tujuh hari.

Kebijakan ini dilakukan oleh bank sentral yang meminjam atau memberikan pinjaman dalam forum pasar uang antar bank.

9. Sertifikat Wadiah Bank Sentral

Instrumen kebijakan moneter berupa sertifikat wadiah bank sentral pada awalnya hanya diberikan kepada bank syariah saja.

Akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan digunakan oleh bank umum.

Penting untuk Anda Ketahui:

Pengertian Kebijakan Fiskal Lengkap dengan Instrumen, Jenis, dan Contoh yang Tepat

Demikianlah pembahasan mendetail tentang instrumen kebijakan moneter dalam dunia ekonomi dan perbankan.

Admin berharap semoga pembahasan tersebut dapat menambah luas wawasan dan pengetahuan Anda.

Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Leave a Reply